Sabtu, 02 Desember 2006

Flirty Bucthery


Napa ya?



What's wrong with my attitute?


Dulu saya selalu belanja daging di AM,  toko milik teman Da An -suami. Orang Libya. Sekarang, tokonya dikelola orang lain.


One day, kok, butchernya jadi sangat perhatian gini. Nanya macam-macam. Ketawa dan seterusnya. Tatapannya juga...


Aduh, jadi ngeri!


Nggak pergi belanja sama anak-anak. Soalnya langsung dari tempat kerja.


Sereeem.


"Umi nggak mau ah Bi, kalo belanja tanpa Wafa."


"Kenapa?"


"Supaya orang tau Umi ibu-ibu yang sudah berkeluarga." Lalu cerita tentang butcher ajaib itu.


Sejak itu, saya tak pernah belanja ke sana.


Bersamaan dengan Medina, toko dekat rumah, dapet sertifkat halal dari Wales.


Ya, sudah, ke Medina saja.


Tapi, alamaaak. Saya sudah kenal sekali dengan semua butcher di sana. Ada empat. Mereka pasti hapal saya sering datang dengan tiga anak. Memang, malam itu saya nggak sama anak-anak. Biasa, pulang kerja.


Tapi,...adddoh, napa jadi ada yang flirty gene?


Saya memang biasa nanya, "How are you brother?" Tapi, mah, kan pertanyaan biasa. Saya juga nggak senyum-senyum genit kok.


Pas saya lagi dengeer radio. Masa, berani-beraninya minta denger saya lagi denger siaran apa?


Asli, takjub dan sebel.


"Umi nggak mau Bi, belanja daging di Medina.Abi saja." Nyampe di rumah dongkol itu masih bersisa.


"Kenapa?"


"Ada yang ...flirty."


Saya nggak yakin suami ngerti kata ini.


"Siapa? yang di kasir?"


"Ah, mereka mah baik. Bukan. Yang bucther."


Ya udah, walau segan dan sungkan akhirnya cerita.


"Kan nggak pantes, Bi."


Suamiku setuju.


Tadi, di sekolah, ada lagi kejadian yang bikin saya terpaksa melihat ke dalam diri.


Ada apa dengan sikapmu, Imun?


Kenapa mereka jadi flirty sama dirimu? How did you look and smile? How did you carry yourself?


Apa perlu bawa poster? 'Happily married woman with three children?"


Nelangsa. Sungguh. 

Posting Komentar