Sabtu, 02 Desember 2006

Sopir Bus Congkak







Sehari-hari saya loncat naik dan turun bus. Nomor 12 paling dekat menuju city centre. 32 juga, cuman 32 bus kecil, tak low liner. Pushchair tak bisa naik, kecuali dilipat. Dari citycentre, menuju tempat kerja yang sekolah bisa naik 80, 81, 38, atau 1. Ambil dari Odeon. Tempat kerja yang bersih-bersih, dilanjutkan dengan naik 30.


Namanya naik nomor tertentu, jadi hapal lah sopir-sopir yang nyupir jam-jam tertentu. Kalau pulang, biasanya bus 12 disopiri gadis cantik, blonde, curvy dan murah senyum.


Kalau pagi, bus 12 sering sama Bapak Pakistan yang pernah ngomelin saya. Gara-garanya, saya nggak menemukan karcis. Saya kira di saku tas, nggak ada. Bolak-balik cari dalam tas.


Panik.


 Baru ketemu di saku jaket. Saya baru ganti tas.


"Kalau mau naik, siapkan dulu karcisnya," omel Uncle. Mata itu tak ramah.


Dongkol juga. Karena, saya selalu siap dengan karcis di tangan.


"I just changed my bag this morning. I forgot, I put the ticket in my pocket instead."


"Next time, have it ready before you get on."


Yaa, Uncle. Ini kan baru sekaliii.


Pas turun, karena masih sakit hati, saya jalan saja, kayak sebagian besar anak muda di sini. (Kalau pergi  kerja, seringnya saya saja yang bilang, "Thank you." Sisanya, loncat dan kabur. Tapi, kalo perginya siangan, bareng generasi tua, sudah bisa dipastikan, "thank you" dan senyum ada di setiap bibir. Hayo, kenapa?)


"Thank you,"teriak Uncle di belakang saya.


Dih, Uncle. Nggak kebalik?


Manyun sendiri.


Nggak tau juga ya....pagi itu saya tidak bisa berbesar jiwa, he he. (Mungkin, PMS kaliii) Soalnya, ada yang lebih sadis dari beliau, sopir bus 1. Saya memang sudah berdiri di Northumbria Uni. Ini karena, saya agak jera berdiri pas bus menikung dan menurun. Asli, kalau tidak kuat memegang rail, terbanting kiri, kanan, depan belakang. Kadang, melihat kita terpapar kiri kanan itu, sopir tersenyum tipis. Jadi su'udzhon, jangan-jangan, sengaja. Hi hi hi.


Bapak tua itu memberhentikan bus di depan NU.


Trus beliau melihat saya. Lha, jelas saya kaget dan panik. Mau turun, masih satu setopan lagi.


"I did not press the button." Sungguh, tangan saya jauh dari tombol itu.


"But you stand up!" Sopir murka.


Alamaak. "Sorryyyy."


Mendengus sang sopir menekan gas. Hampir membuat saya terjungkal.


Saya bergeser mendekat cubiclenya ketika akan turun.


"Thank you very much for your kindness. You stopped for me , even I did not press the button. That's very kind of you. I am sorry that I troubled you. Thank you."


Wajah yang tadinya bersungut itu berubah ceraaah sekali.


"It's okay, love. Tara now."


Di sini, Geordies, biasa memanggil sesama dengan pet, love, darling, bonny lass etc.


Pertama dipanggil gini sama sopir yang nganterin komputer kita 6 tahun lebih lalu. Thank you love. Are you American, Lovie? (Karena aksen saya masih sangat Amerika saat itu). Duh, telinga saya gatal denger 'love' dari a complete stranger. Suami aye aje nggak pernah dah panggil 'love'.


Sekarang sih dah kebal. Biasalah dipanggil pet (binatang peliharaan, ha ha ha), atau sunshine, atau lass (anak gadis...udah emak-emak loo), atau darling, love, dsb.


Eniwei, yang ingin saya ceritakan menyangkut orang lain. Pagi, beberapa hari lalu, sepasang suami istri Arab naik bus setelah saya. Sang istri berwajah muram. Suami minta tiket single dan satu return. Istrinya disuruh suami duduk ke dalam, sementara suami membayar karcis.


"No change," kata sopir. Sopir yang agak bongsor dan botak.


Biasanya, kalau nggak ada kembalian, disuruh duduk, nanti kalo ada kembalian diberikan balik. Dulu saya begitu. Uang 4 pon masih sama sopir. Pas mau turun, uang dibalikkin.


Tangan saya sudah mencari dompet. Kalau-kalau, yang sopir ini tak mau begitu. Soalmnya, sopir ini temasuk yang judes.


"No change." Kali ini suara sopir lebih ketus. Nah kan?


Suami memanggil istrinya dan mereka kembali keluar.


Telaaat. (Mikirnya lamaaa amat, Mun!)


Pas ngeliat wajah gelisah suami istri itu, kemuraman istri yang makin jadi, sungguh hati saya perih. Mereka bisa saja punya janji ke dokter.


Ah, Mun. Lain kali nggak usah nunggu lama, gimana sih?


Dulu, ibu-anak Arab juga ketimpa masalah yang sama. Saya yang kebetulan duduk di depan pintu masuk, buru-buru mengeluarkan uang.


Anak gadis itu kaget. "It's okay, thank you. It's okay."


Dia dan Ibunya kembali keluar. Dengan wajah agak menang, sopir melaju, meninggalkan ibu-anak yang melihat jam tangan mereka.


Maksud saya, nggak usah minjam. Ambil saja. Daripada nunggu bus berikutnya yang masih lama.


Kemarin, nenek tuaaa sekali, naik bus. Beliau mengeluarkan pas bus warna merah. Tak jelas percakapan mereka.


"1.50."


"What?" Jelas Nenek kaget.


"One fifty."


Tiket sudah tercetak, tinggal diambil.


Nenek nampak sangat enggan membuka dompetnya.


"I thought, I got freebus to go hospital, like usual."


Certain people memang gratis naik bus. Nenek-kakek, disable people, bisa gratis naik bus.


"You did not mention you wanted to go hospital." Ketus sekali.


"But I go to hospital."


Kasihan Nenek ini. Mestinya ada yang menemaninya ke sana.


"I printed the ticket for you. One fifty." Wajah sopir tak mau tahu.


Wajah Nenek itu nampak enggan sekali. TAngan beriput itu membuka dompet. Lamaa.


Per pekan, mereka, pensiunan, hanya dapat state pension sebesar 75 pon. Kadang lebih, kadang kurang. Semua dari situ. Banyak, pensiunan UK yang hidup kelaparan, kedinginan, tak ada yang peduli. Jika tinggal di nursing home, banyak hidden abuse. Kalau mau masuk care home yang baik dikit, terpaksa menjual rumah.


 Ingiiin saya membayarkan ongkos itu. Tapi, masih berdebat antara 'anak jilbab = muslim yang agak teroris itu membayarkan nenek bule'. Gimana keliatannya? Sedang bule tidak terbiasa dengan budaya 'traktir'. Boyfriend-girlfriend saja sering bayar ongkos sendiri-sendiri.


Nenek melemparkan dua logam pound. Wajahnya agak frustasi.


Dengan wajah cuek sopir mengambil uang itu.


U uh, pengen ngegampar sopir ini.


Nggak ada bedanya bagi dia  berapa banyak uang yang dia bawa ke kantor. Dia digaji sama per jamnya. Kenapa nggak lebih lunak sedikit? Toh, karcis yang sudah keluar itu bisa dibatalkan lagi? Saya pernah lihat karcis yang sudah jadi dibatalkan dengan karcis berikutnya.


Kejadian yang sama beberapa waktu lalu menimpa sepasang kekek-nenek.


Pasangan ini berkata mereka mestinya bisa gratis naik bus ke rumah sakit. Sang sopir dengan congkak berkata, tidak.


Ya Allah, kadang hati itu membatu.


Pasangan tua di depannya bisa saja suusia Bapak-ibunya. Nenek di depannya bisa saja seusia neneknya. Tidak adakah belas kasih?


Bukankah, secara hukum, nenek-kakek bisa naik bus gratis? Memang harus pakai concessionary card, tapi, tak semua nenek-kakek melek peraturan ini. Mereka pikir dengan red card biasa, mereka bisa tercover. Lagian, siapa yang suruh merubah peraturan berkali-kali?


Orang tua seperti mereka jarang keluar rumah, jarang dapat info.


Wajah tua itu mengerut. Mungkin, uang 3 pond yang mereka berikan adalah uang pembeli roti mereka pekan itu.


Mungkin 1.50 itu adalah uang nenek untuk membeli telur dan susu.


Britain!!


 Kalau kita tak menghormati generasi tua kita, yang berpuluh tahun lalu memapas jalan untuk masa depan kita,....kehancuran lah buat kita.


Mau jadi sopir, nggak bisa nyetir.


Uh!


 


 


 



 


 

Posting Komentar