Rabu, 21 Februari 2007

ASI or not? Pelajaran dari Bidan di UK dan Indonesia

Baru saja chatting dengan adik tersayang.


(Oi, Ra!)


Dari diskusi singkat, banyak mengupas tentang kesehatan ibu dan anak. Terbersit keinginan menulis pelajaran yang didapat dari kehidupan singkat sebagai Ibu di Indonesia, dan kehidupan panjang sebagai Ibu di UK.


Ketika melahirkan Arik dahulu, sejam pertama Arik hidup, bidan menyendokkan susu formula kepada Arik. (Note: Saya lihat membuatkan susu tidak memakai sendok penakar dsb...lebih pakai feeling bidan saja). Saya diperintahkan tidur di pembaringan sampai 6 jam lamanya, tidak boleh bangkit. Selama itu, Arik dipegang bidan, atau Mak.


Melahirkan Muhammad dan Wafa di UK (Muhammad normal delivery, Wafa Caesar), begitu dia lahir, masih belepotan darah begitu, anak dikasih ke saya, dilekatkan ke dada. Judulnya, skin to skin contact. Tujuannya, menumbuhkan bonding Ibu dan Anak, sekalian menenangkan anak, bahwa dia, walau telah keluar dari kedamaian rahim, masih berada dekat Ibu.


Saya notice, baju saya kena darah bujang ini (kalau Wafa, karena diangkat langsung dari rahim, hanya basah air ketuban saja).


Begitu Ibu merasa kuat, maka Ibu disarankan menyusui anak. Saya melakukan itu, ketika masih dalam recovery room pada Wafa. Saat pelan-pelan, pengaruh bius hilang dari setengah badan bagian bawah. Saya menyusui Muhammad setelah Muhammad selesai dites AGRA oleh bidan (semoga nama tesnya masih bener, he he he. Dah lupa).


Balik ke Arik, setiap 3 jam, Arik disendoki susu, dan saya tidak disarankan menyusui Arik, karena "Asinya belum ada kan?"


Di UK, dikatakan, walaupun sepertinya tidak ada ASI yang keluar, namun isapan bayi akan mendorong produksi colostrum, ASI kuning awal-awal produksi. Jadi, penting, bagi seorang Ibu untuk memberikan ASI pada bayinya, secepat yang dia bisa. Karena jumlah isapan bayi setara dengan produksi ASI.


Saya ingat, teman sebelah rumah yang melahirkan sebulan setelah saya melahirkan Arik, diberikan suntik hormon untuk memudahkan ASI keluar. Hormon itu suangggatlah mahal, dan sakit.


Sayang, rumah sakit Indonesia sangat tertarik untuk mengejar keuntungan materi, dengan menutup mata pada fakta, bahwa jika dibiarkan natural, tubuh akan memproduksi ASI dengan sendirinya.


Lagipula, berdasarkan diskusi dengan midwife di UK, sampai bayi berusia 48 jam, dia masih bisa survive tanpa ASI. Karena dia sudah dibekali dengan 'makanan' sebelum lahirnya.


Sehingga, kata bidan UK, lebih baik meneruskan membiarkan bayi mengisap....walau sepertinya belum ada ASI, sehingga menolong produksi ASI, daripada membiarkan bayi meminum susu formula.


Tetangga sebelah tempat tidur saya yang bertekad untuk menyusui anaknya mendapat perlakuan istimewa dari bidan. Bayinya menolak mengisap sampai menangis meraung-raung. Bidan, dua orang, selalu standby setiap 3 jam, mengajar ibu memberikan ASI yang proper. Juga menolong Ibu memompa ASI sehingga, jika bayi sudah menangis 1 jam.....nolak mengisap....maka diambil jalan tengah, memberikan ASI perasan.


Kalau malam, bayinya bergantian dijaga bidan dan Ibu. Dengan Ibu berusaha memberikan ASI langsung.....kalau masih nolak, diambil bidan dan diberikan ASI perasan.


Demikian besar perjuangan tim kesehatan Ibu-anak di UK terhadap penggalakan pemberian ASI sejak lahir ini.


Saya sebenarnya sempat sedih, kenapa bidan di Padang, tanpa bertanya pada saya, langsung memberikan susu formula pada Arik. Besar kemungkinan kolik yang diderita Arik karena pemberian susu formula ini. Ini karena, dua saudaranya yang tak merasakan susu formula tak menderita kolik.


Apalagi ya?


Di Indonesia, begitu melahirkan, selama 6 jam saya disuruh tidur berbaring. Supaya jangan pendarahan, dsb.


Di UK, 2 atau 3 jam habis melahirkan Muhammad, saya dituntun suami  ke toilet untuk mandi besar sehabis melahirkan. Jalan kaki loh.


Selama 6 jam pertama habis melahirkan Wafa (caesar) saya memang tetap di tempat tidur, karena belum habis pengaruh bius. Setelah itu, disarankan jalan dengan dipapah, atau pakai walker. Semacam tempat berpegang yang pakai roda. Saya berjalan dengan dipapah suami ke toilet.Sehari setelah operasi (melahirkan Wafa jam 10.30 pagi) saya berjalan sendiri dengan walker ke toilet. Walau dengan meringis-ringis, sih.


Aktivitas fisik ini mempercepat penyembuhan caesar.


Di Indonesia, ketika kembali ke rumah bidan, sepekan setelah Arik lahir, untuk periksa pusar Arik, orang-orang bingung. "Kok, baru sepekan melahirkan, Ibu sudah jalan keluar rumah?"


Di UK, kehidupan berjalan normal, dua jam setelah melahirkan dengan delivery normal. Saya ingat, malam-malam lapar, maka saya jalan sendiri ke patient sitting room, cari roti dan minum panas :-))


Pelajaran yang saya ambil:


Melahirkan adalah proses alami. Sehingga, sebaik mungkin dijalani alami. Begitupun menyusui dan recovery dari melahirkan. Tubuh memiliki kemampuan adaptasi luar biasa. Sehingga, jangan terlalu banyak memakai campur tangan hormon, atau apalah namanya.


Semoga bermanfaat.


Next:


Kesehatan anak deh ya....


 


 


   

Posting Komentar