Sabtu, 08 April 2006

Pondok Salada (part 2: Subuh dengan Item)

Pra OJ Jurnalistik 1992, Papandayan (bagian 2)

Seusai pemeriksaan barang, kami diberi makan nasi bungkus. Setengah basi lagi :(

Gelonya, panitia menyuruh makan lauk dulu, sayur dan lauk, terakhir sambel. Pedas!

Tapi, sesusahnya kami dibiarkan sendiri, istirahat. Sebelum penyiksaan berikutnya. Hihi.

Subhanallah, dua panitia angkatan 91, (teteh cantik yang dua-duanya berjilbab setahun kemudian...Iya, Teh Wina dan sohibnya), mendekati saya.

"Maimon, pusing kan?" Lebih menuduh daripada bertanya.

Saya agak heran.

"Iya, Maimon sakit kan?" tekan sahabat beliau.

Yaa, karena dituduh gitu, ya, saya mengangguk.

"Ayo ikut kami."

Lalu dua-duanya cekikikan, ngajak saya ke tenda P3K. Di situ saya diperlakukan seperti teman baru. Ditawari makanan. Diajak diskusi. Ketika tidur, ditawari sleeping bag.

(Tetap sambil memikirkan teman-teman saya yang ...ternyata tidur di atas lumpur..... Syukur pada Allah. Ada saja kemudahanNYA).

Pagi Subuh, saya bertanya di mana wudhu. Seorang pemuda gondrong bernama Item mengantar ke sungai.

"Jangan liat ya."

"Nggak akan lihat."

Sementara Item menunggu sekitar 2 meter, saya menuruni tepian sungai Pondok Salada yang becek,  menuju sungai. Sulit melihat jalan di depan, karena geremang malam masih bersisa banyak.

Ketika sholat di tenda bersama teman-teman yang mulai terbangun satu-satu, sungguh saya kaget. Alas tenda basah, berlumpur hitam. Baju teman-teman dan jaket mereka sudah berlumpur juga. Wajah mereka kusut, nampak tak tidur semalaman.

"Bagaimana cara mau tidur di sini?"keluh mereka.

Nyes. Sedang saya tidur di tempat kering, berselimutkan sleeping bag yang hangat.

"Basah,,"sungut mereka.

Suhu Pondok Salada bisa drop minus celsius kala malam.

Jeri, karena saya sendiri yang nyaman.

Sholat pagi itu dengan perasaan tak menentu. Hanya bisa ruku. Sujud tak bisa, karena di atas lumpur.

Semoga Allah mengampuni.


Posting Komentar