Selasa, 11 April 2006

Gadis Terjorok....Ugh

Malam terakhir, kami disiksa lagi.


At one point, ketika disuruh telentang, lalu kaki diangkat seperti mengayuh sepeda. Saya asli nolak.


Aurat, bo!!


Dengan cuek kayak bebek duduk dan keluar barisan. Ofcourse, semua teriak, membentak. Kenapa keluar dsb.


"Sakit." Jawab pendek sebel. Sakit hati.


Ya udah, (quite surprising kalo dipikir-pikir sekarang....Hagi, Mak Tian, mau nanya dong, dulu kenapa ya saya bisa 'lolos' mulu??) duduk santai bersama tim P3K.


Lalu, sampai pada adegan, kita dibawa satu-satu ke tengah kebun teh. Mata udah ditutup. Trsu ditinggal menjelepok di antara dahan-ranting teh. Saya ngerasa, 2 Teteh sengaja milih saya untuk mengantar saya ke kebun teh. Kita membawa lilin di tangan.


Asli, sumpee, pikiran saya saat itu hanya ke satu hal. ULAAAR!!


Ulat kebun teh yang item dan mematikan. Sungguh, sama ular, walau nggak sampe phobia, saya punya banyak pengalaman 'dahsyat'. So, bermenit-menit...hanya satu saja yang dalam pikiran...


ULAAAAR.


Akhirnya, saya nggak tahan. Berdiri dan membuka mata, dan mencari jalan keluar.


"KENAPA lagi MAIMON!!"


Biasa deh, disambut 'mesra' tim tatib. he he.


"Sakit perut."


Emang bener, mules mikirin uler.


Setelah dibetein dan disebelin, saya boleh duduk bersama 'sahabat', tim P3K. Teh Wina dkk. Ada Nigar juga.


Eh, siapa tu, yang kayak bule, banyak didemenin Maba cewek? Nah, jadi banyak ngobrol, ketawa-ketiwi sama grup ini.


(cieee,....)


Sampai satu ketika.


"Eh, ini Jurnil kenapa ketawa-ketawa? BUka mata pula. Tutup MATANYA!!!" Teriak melengking.


Yaaa.


Selesailah diskusi asyiiiknya.


Otomatis jadi tidak asyik lagi ngobrolnya. Buta siih.


At one point, saya dibimbing, dimasukkan ke barisan teman-teman, menuju api unggun.


Say sih udah nggak ngeh, gimana-gimananya. Ilang orientasi. Yang jelas, sebagian anak cowok basah, berlumpur. Kena jebur. Api unggun juga setangh jadi. Pokoknya puncak acara itu gagal, maneh.


Sholat Subuh? Emang masih ada yang sholat?


Sholat dah kabur entah ke mana.


KAin sholat di mana, kita di mana.


Saya?


Kayaknya sih sholat, di sekolahan. Seadanya.


Saat sarapan, yang juga seadanya, mau nambah minum. Pakai bekas gelas bekas makan kacang hijau. Seorang panitia yang memang terkenal kecakepannya (bukan bule kesasar itu) nanya,"Kok airnya kotor?" Melirik air butek saya.


"Ini bekas kacang hijau, Kang."


"Iiiii, jorok ih!" Hidung bagus berkerut. Mata menyipit. "Cuci dulu, kenapa kek?"


Tergeragap...


Kotornya di mana? Kan bekas kacang hijaui?


Sang Kakang melengos.


Duh,...rasanya kok ya...jadi gadis terjorok sedunia...


Samar-samar terbau pula bau nggak mandi tiga hari....ketiak asem...kaus kaki busuk....


Hiks.


 

Posting Komentar