Sabtu, 08 April 2006

Pra OJ Jurnalistik 1992, Papandayan (bag 3)

Pra OJ Jurnalistik 1992, Papandayan (bag 3)

Habis Subuh, kami dibariskan, disuruh menunduk. Senior dan Dewa/i menyiapkan sesuatu. Saya tidak tahu apa. Setelah dimaki-maki, maka disuruh memejamkan mata dan membuka mulut.

HOEK!

Cairan yang entah apa, membuat perut saya bergejolak. Sesendok cairan itu tersembur.

Kembali, dibentak.

Sendokan yang kedua, saya memaksa cairan itu masuk ke tenggorokan. The worst drink ever! Katanya sih cairan botowali? Atau, minyak ikan? Entah lah.

Pagi dan siang diisi dengan ceramah. Tidak satupun ceramah senior nyantol di kepala saya. Sungguh :-))

Kami kemudian digiring menuruni Papandayan. Di satu lereng gunung, diadakan acara role playing. Kami, mahasiswa baru, diberi target mendapatkan sekian tanda tangan panitia Opspek dan sekian senior non panitia/dewa-dewi.

Di sini terbuka kemungkinan 'abusing of power'. Segala sexual harrasment dst.

Jelas saya siap-siap dengan ini. Saya hanya minta tangan pada lelaki yang 'aman'; bersedia disuruh apa saja asal tidak nyanyi, tidak joget, tidak sebagainya :-))

I don't know why, tapi, saya biasanya memang tidak disuruh macam-macam :-)) Paling disuruh nyanyi. Saya jawab, "Saya tidak nyanyi." Yaa, disuruh teriak, "Item, kamu ganteng deh." Ah, kalo cuman ngomong gitu aja, sih kecil. He he he.

Segerombolan senior duduk di saung. Ada Hagi dkk. Mereka sepakat memberi saya tanda tangan, jika saya bersedia mereka suruh sesuatu. Rejeki nomplok. Karena, at least ada 10 panitia dan senior.

"Ayo, Maimon, nyanyi."

"Saya tidak bernyanyi." Kalau nyanyi sendiri sih mau.

"Puisi? Bisa puisi?"

Bisa, cuma untuk  kalangan perempuan saja. "Saya tidak berpuisi."

"Jadi, bisa kamu apa?" Hagi dkk agak kesel. Mungkin setengah menyesal, sudah menjanjikan tanda tangan.

"Kalau pidato, gimana?"

"Ya deh. Sana."

Pidato itu tentang jauhnya kita dari Qur'an dan bagaimana seharusnya sebagai Muslim, kita harus kembali membuka Qur'an. Bla bla bla.Dunno, it just happened that way.

Sayangnya, saya kurang sensitif saat itu. Tidak mencoba melihat apakah pidato seperti itu pantas untuk mendapatkan tanda tangan senior.

Selepas itu, satu-satu mereka membubuhkan tanda-tangan.

Saya pun mencari tanda tangan berikutnya, tetap dengan tekad: tidak nyanyi, tidak joget, tidak puisi....


Posting Komentar