Minggu, 08 Januari 2006

Hiya...Syereem (Tujuh Tahun Lalu)

Desember, 1998, abang dengan sebel bertanya, "Bagaimana Teh?"


Dengan sok culun saya menjawab, "Bagaimana apa, Bang?"


"Mau nggak dikenalin sama calon Abang?"


Adhoh, saya sedang bete dengan urusan yang satu ini. Pernah bad luck pada soal taaruf-an. Mending, enjoy the time of my life dulu deh. Punya dua kerja, sibuk beraktivitas.


Males gitu loh.


"Katanya, kalau ada yang akan ngiket di Bandung, adik mau kembali." (kerja di Jakarta)


Huk.


"Ya iya sih." Nyengir sendiri.


"Jadi, bagaimana? Mau kenalan?"


"Nggak mau sama orang Padang, ya?"


"Yee, kenapa?" Abang terdengar sangat sebel.


"Ogah." Dalam kepala saya keluar titel 'selfish...panceme'eh dst'


Abang misuh-misuh. Saya cengar-cengir.


Sabtu, sore itu beliau bela-belain datang ke kantor saya, majalah wanita di Jakarta. Sungguh saya surprise, salut...plus takut. Surprise karena Abang saya manusia super sibuk. Salut karena demikian perhatian sama anak bandel ini, sampai bela-belain ngunjungin kantor untuk janjian ketemu. Dan takut....si Abang serius abis, euy!


Kembali dijejali dengan macam-macam pertanyaan dan 'doktrin'.


"Imun mau ke Australia, Bang."


"Hah? Kapan?"


"Ya, kapan-kapan sudah ada uangnya."


"Ngapain?"


"Nyari kesempatan master, kalau nggak dapet ya cari pengalaman."


Ada satu nama yang muncul dalam ingatan, seseorang yang already begged me to marry him...I am not for it at all, mind you.  Juga beberapa sahabat yang mukim di sana.


"Nikah dulu, baru sekolah lagi."


Yee, apa hubungannya.


"Teh Imun, sayang loh kalo tidak mau dikenalin." Gantian Teteh, istri Abang yang promosi. 


Saya speechless. Teteh tipe pendiam dan jarang komentar masalah pribadi kami. Lha, pertanda apa ini?


"Ibaratnya, jika sama A, teteh ke kiri, sama yang ini, ke kanan." (Abang deh yang ngomong). Mau ngamuk  rasanya. But, maybe he has the point.


"Pokoknya, Abang jamin, semua obsesi Teteh insya Allah tercapai dengan yang ini."


Saya kehilangan protes sama sekali. Saya percaya dengan Abang, seseorang yang telah mengambil resiko besar dalam 'memungut' saya...


Ternyata....Padang! Ternyata calon dosen...glek...ternyata...tue  (beda 5 tahun).


Tapi, bismillah, saya melangkah.


Jumat nginep di rumah Abang, Sabtu pagi calon Abang datang memberikan datanya, sekaligus mengambil data saya.


"Nanti intip saja dari kamar, oke?" Abang mengajari. Mau sih, tapi, wah, orangnya jalan cepet dan nunduk. Nggak keliatan manis atau apanya.


Sabtu sore ditelpon lagi. "Gimana? Lanjut?"


"Lanjut? Taaruf?"


"Iya."


Kalau cuma taaruf, siapa takut. "Ayo." Toh, open for no or yes.


Ahad jam 7 pagi diskusi sampai jam 11.


Jarang bertemu dengan seseorang yang sangat pede seperti ini, cerdas dan tangkas dalam menjawab pertanyaan.


"Tipe istri seperti apa yang akhi mau?"


"Yang sholelah."


"Tapi kan kita lahir dengan berbagai latar belakang. Budaya, pengalaman psikologis, sosial. Bagaimana akhi menyikapinya?"


"Kesholehan wanita akan mencelupi yang lain."


"Bagaimana pandangan akhi terhadap akhwat beraktivitas di luar rumah?"


"Tergantung aktivitasnya apa dulu."


"Jika dakwah menuntutnya keluar?"


"Saya akan sangat beruntung bisa bersama seseorang yang berguna bagi dakwah..."


Demikian sekelumit diskusi...Intinya, skak mat.


"Jadi, kira-kira, jika saya ditanya orang tua, bagaimana ya menjelaskan taaruf ini?"


Abang nyela, "Loh, Akhi, kita cuman belum sepakat dengan tanggal akad kan?"


"Iya." Suara itu kalem.


I was gobsmacked. Rasanya hampir terguling dari duduk. "Loh? Kan belum ngelamar sedikitpun, teh?" bisik saya panik sama Teteh. Kan baru taaruf? Kok sudah masuk bab 'tanggal akad?' KApan aye dilamarnya? Kapan aye bilang iya?


"Tanya saja." Teteh menyikut saya.


Saya menatap lemari yang membatasi kami. YA Allah, inikah jawabanMu? Berbulan-bulan saya meminta Dia saja Yang tercinta yang memutuskan untuk saya, siapa yang akan menjadi teman hidup saya. Saya lelah menilai, menimbang dan memutuskan. Takut salah. Tak mau salah. Saya bertekad, tidak akan menjadi yang berkata 'iya' dan 'tidak'. Makanya, untuk memutuskan 'maju' saya perlu lama sembunyi dari Abang.


Ini jawabanMu ya Waduud?


Saya calon istri!! Unbelieveable! To someone yang still totally stranger.


Dua bulan, pengenalan itu belum dekat. beda kota. Tidak ada telepon. Tidak pernah ketemu kecuali ketika beliau bertamu ke rumah, sehari sebelum lebaran, beberapa pekan setelah diskusi 3 jam itu. Lalu pesan banyak melalui Abang.


Sampai kemudian, pulang, 6 Dhulhijjah, di Palangki berhentinya. Sore menjelang malam. Umak udah hampir menangis karena panik. Semua persiapan sudah siap. Kamar pengantin sudah didekor bako, namun calon pengantin belum sampai.


7 Dhul berkelahi dengan sepupu yang kerja di Puskesmas. Kantor KUA hanya mau menikahkan calon pengantin yang disuntik. Saya pernah diceritakan, suntik puskesmas ini kadang suntik KB yang bisa memandulkan. Beliau hopelessly kind and happy for me, and insisted that the injection is a must. And I am a paranoid city girl who question everything. Why?


(Mind you, to think of the aspect of 'baby making' enough to drive me mad...Is it possible to get married, have children without that intimate part?)


Sore Rabu itu saya asyik dengan paman saya, menurunkan semua tetek bengek kamar pengantin (hasil kerja bako...bako = keluarga ayah). bayangkan! Serba merah dekat ke ungu? Creng dan fantastik...Just not me at all!


"Imun nggak akan mau masuk kamar itu."


Baralek di rumah Etek, sedang nginep di rumah Mak Tuo. Jadi, betul, kamar itu cuma hiasan saja. Tidak akan ditempati. But, you know....the colour?...


Mak setengah tersenyum, setengah sebel. "Mau bagaimana lgi? Bakomu yang memilihkan."


"Nggak. Warnanya! Ampuun."


Saat itu paman (beliau anak dari saudara seayah nenek dari pihak ibu) memberikan solusi. Beliau akan membawakan pernik kamar pengantin dari Solok, bekas kakak perempuan beliau. Yang jelas serba netral lah warnya.


Kami asyik memasang pernak-pernik kamar sambil sesekali ditimbrungi Mak. Serasa kembali ke 6 tahun yang lalu, saat kami satu SMA, beliau kelas tiga, saya kelas satu. Sepanjang satu tahun itu, saya menjadi 'anak kamanakan orang terkenal'. Karena  paman saya lumayan terkenal di SMA 2...Sebenarnya, sebagai anak kelas satu, yang satu dari dua pemegang NEM di atas 53, saya lumayan terkenal seeh...di kalangan guru maksudnya. Hi hi hi, soalnya, ada beberapa guru yang ketika mengabsen, menatap agak lama. Ada yang berkomentar,' O, ini Maimon itu'....asumsinya...jauh panggang dari api, kak kak kak.


Datang 8 Dhulhijjah...sungguh, saya mati rasa.  Sepupu mengajak berdandan. Hanya mau dibedaki dan cari lipstik sendiri. I would say, a very simple choice...dibanding dengan nasib teman-teman yang dipaksa jadi 'someone else' oleh penata rias. Inin, sepupu saya, tidak memaksakan apa-apa.


Coming the 'h' hour. The feeling was so heavy. I was not ready. Nggak siap ya Allah, jadi istri a stranger.


Tapi, mau bagaimana juga belitan perasaan helpless itu,  akad terus berlangsung. Dengan lima kali pengulangan. Kesalahan pada Papa.


Ketika semua mengucap hamdallah, seakan tubuh diguyur air es. Saya seorang istri!! Allah! How am i going to deal with it? Bisa dibatalkan saja nggak ya?


Ketika usai Ashar, saya dan beliau diajak isirahat di rumah Mak Tua, karena ba'da Maghrib akan ada 'alek kampung', saya memilih mengganti baju di kamar sepupu, membiarkan beliau di kamar saya, dan menunggui Inin masak ikan panggang di dapur.


"Mun, temani dia. MAsa ditinggal sendiri. Tanya, mau minum nggak."


Ya Allah. Saya bukan pengecut sama sekali. Namun, sungguh, sekali itu, seumur hidup..., mau buka pintu itu....seperti menuju tukang jagal!


Tangan saya seberat satu ton kilo, ketika harus mengetuk pintu itu.


"Masuk saja."


Saya langsung ingin ngibrit lari.


Dan ternyata, lelaki Padang itu sabar dan bijaksana menghadapi perasaan itu.


Ah, betapa saya berusaha mengecilkan badan sekecil-kecilnya ketika duduk di kursi, jauh-jauh di sudut. Berharap semoga beliau tidak aware dengan saya. Betapa saya kehilangan suara, ketika ditanya...


7 tahun sudah kami bersama....


Allah Maha Suci...


Dialah sahabat, kakak, kekasih, pasangan....


Dia belahan jiwa...


Juliandri, lelaki sederhana yang amat teramat tidak ekspresif, lelaki yang berusaha konsisten dengan SabiliLlah...yang mengajari dengan qudwah...dengan segala kekurangannya...Lelaki yang manusia biasa....


Semoga kami kembali bersama di surga...amiin.


(Bi, kalau bidadari di surga itu siapa?................Bidadari Abi kan Umi.......tuing tuing)


newcastle....pagi 8 Dhulhijjah....mengenang mitsaqon gholizho...


 


 

Posting Komentar