Jumat, 27 Januari 2006

Kenangan One Year Tsunami..

Kenangan dari One Year Aceh tsunami Remembrance


 


Dua hari sebelum Sabtu, saya sudah menyiapkan ransel besar. Ransel besar ini dulu dibeli untuk dipakai pergi haji suami, pada 2001. Karena yakin tidak akan terpakai dalam waktu lama, tu ransel disimpan di dalam plastic hitam besar.


Kamis sore sudah memasukkan baju ganti, nappy, wipes and all children essentials. Biasa deh, emak-emak. Kerjaan Ihsan masih bejibun. Nyiapin auction particulars, CD Raihan belum datang, narasi video show belum dibikin, dst. Seperti biasa, rapat dengan panitia lain, onlen, malam bangeet....selesai jam 12.


Teler deh.


Jum’at kembali menonton video Aceh. Karena sudah tiga kali nonton, sudah agak kebal. Sebelumnya, belum nulis, udah banjir air dulu...nggak bisa mikir apa-apa.


Rapat onlen lagi dengan Riri, masalah narasi video show dan auction. Kerja cleaner Jumat sendiri pula...nggak ada temen. Karena cleaner yg dari agency nggak datang. Grr. Ngerjain 7  labs lumayan. My feet were achie.


Seperti malam-malam sebelumnya, pulang kerja langsung duduk di depan kompi. Anak-anak sudah 3 hari nggak keurus. Mereka semua jadi anak Abi. Makan, mandi dst. Dipikir-pikir, sebenarnya sudah tiga hari juga saya nggak pernah makan proper. Sekedar comot sana-sini. Kadang cuman bertahan dengan minum kopi doang, sampai siang. Betul-betul jelek ya.


Narasi videoshow baru selesai jam 10 malam, dilanjutkan dengan diskusi dengan Riri. Kepala udah berdenyut-denyut. Akhirnya, malam itu kerja tuntas.


Sebelum merebahkan badan, menyempatkan diri menambahi perlengkapan yang dibawa anak-anak esok.


 


Sabtu Pagi.


Anak-anak bangun super lincah. Karena hari yang ditunggu-tunggu tiba. Naik train! Tiket kita untuk train jam 10. Jam 9, teman suami janji datang, dan mengantar ke train station. Saya menyiapkan segala kue, minuman, susu, dan bekal untuk pulang-pergi naik train.


Kalau beli minum di jalan, bisa 1 pound sebotol. Belum lagi, teh panas bisa 2 pound. Capucino kesukaan saya,waa, dalam train bisa 2 pound something. Jadi, mending, bawa semua dari rumah.


Mereka sudah mandi, sudah ganti baju, sudah makan. Satu jam nunggu berangkat, kelincahan mereka sungguh-sungguh bikin stress. He he. Karena, saya belum makan, belum nyiapin baju, belum ngeprint narasi dan seterusnya.


Suami keluar ambil uang. Saya sempatkan memanaskan kembali teh yang udah dua kali dingin. Brt, teh dua kali panas via microwave udah nggak yummy lagi. Saya memasukkan sebongkah nasi dan telor ceplok bagian saya yang belum kesentuh ke dalam kotak.


Jam 9 saat teman suami datang, ada lagi yang nelpon. Waaa.


Perjalanan ke London was quite enjoyable. Apart from my anxiety of whether our event would go smoothly or not. Udah dua malam nggak bisa tidur. Mikir banyak. Acara akan oke nggak dst.


Sampai di London jam 13. Arik begitu turun langsung nanya,”Mi, where is platform 9 ¾?”


Ha ha ha. Dia bukan penggemar Harry Potter. Dia penggemar train. Dia suka melihat clip Harry Potter yang bagian steam trainnya. Sisanya nggak tertarik.


Akhirnya kita nyari ke arah samping stasiun. Ada sih. Cuman ya gitu, betul2 ‘bo’ongan’. Kalau di filem, tempat masuk itu antara dua flatform kan? Yang sebetulnya dinding doang. Bukan pembatas dua platform.


Eniwei, selain Arik, udah ada rombongan gadis yang nunggu kesempatan difoto.


Seorang anak bule, seusia Arik teriak,”It won’t open. It is just a wall. Nothing behind it.”


Yes, we do know it, darling.


Keluar Kingcross, kita diskusi apakah akan naik tube atau bus. Naik tube cepat, cuman harus turun tangga. Dengan pushchair, it is awkward. Nggak ada lift. Imagine, kota segede London, stasiun sebesar Kingcoss, nggak ada lift!


 


Akhirnya mutusin naik bus. Lebih murah, pushchair masuk, dan nggak terlalu lama. Hanya 20 menit. Kita nanya 2 teenager pakai jilbab di mana LMC. Mereka janji, nanti memberi tahu jika harus turun. Tapi, mungkin karena mikir yang lain, mereka ngasih tau saat bus hampir jalan lagi. Akhirnya pakai acara teriak dulu sama sopir, minta stop, karena mau turun.


Jam 2 di London Muslim Centre aka East London Mosque.


Allahu Akbar...serasa masuk kampung melayu. Toko buku muslim, toko baju muslimah, burger halal...sepanjang jalan, semuanya bernuansa halal-muslim. Sepanjang jalan yang nampak juga berjilbab dan berjenggot.


Now what?


Pintu masuk di mana?


Akhirnya nelpon Ihsan Chairman dulu. Suami disuruh masuk tempat brother, nanya pintu masuk dari mana.


Alhamdulillah, ketemu panitia lokal. Kita mengikuti beliau ke belakang gedung. Beliau bawa buah dan perlengkapan konsumsi.


Baru ada satu dua panitia lokal, anak PPI London.   Akhirnya, nolong nurunin meja.


Jam 3 semestinya panitia lain sudah datang. Belum banyak yng muncul. Akhirnya keluar dulu beli makan, karena perut udah melilit juga.


Muhammad refused point blankly. Dia tidak mau makan. Terlalu excited dengan teman baru. Lari kian kemari.


Yeni datang saat kita sedang makan. Dia ikut makan sambil mengurusi anak-anak operet.


Setelah makan, sampai menjelang jam 7, kerjaan serabutan. Antara monitor anak operet, ngurusi auction, diskusi narasi dengan Pak Mufi (asli Aceh),  sampai masalah slide yang belum selesai untuk anak operet. Diselingi menghias panggung.


Idenya, Aceh paska tsunami. Perlu kayu, ranting, kain kasa, obat merah dst. Baru ada seplastik ranting dari Wahyu. Dikit amat. Kain kasa hanya ada satu helai. Dicat merah, menyerupai warna darah dan dililit di antara ranting. Seplastik lagi ranting dari Mbak Neng. Akhirnya sekeliling panggung dikasih ranting. Nggak ada kayu...padahal maksudnya, kayu rebah = Aceh masih rebah...He  he he. Mengunakan yang ada ajalah.


 


Riri sibuk wira-wiri. Pak Ali berkutat dengan slide show. Hebat ni Bapak. Pada saat sinusitis beliau sedang kambuh. Tak akan ada yang tahu, kecuali orang-orang yang menangkap bayangan istri beliau nyari apotik dan memberikan obat ke beliau.


Sempat stres karena musik/rekaman percakapan anak2 nggak bisa diputar.


Mbak neng sibuk telepon anak beliau yang lebih paham masalah rekaman ini. Ketika ketemu file yg bener, ternyata percakapan setelah cericit burung juga bermasalah. Keciil sekali. Walau sudah ditolong oleh sound mixer, tetep kurang bagus.


Seadanyalah.


Gladi resik anak-anak bikin stress. Udah gitu, tim nasyid Al Ikhlas juga bermasalah. Ketika latihan, mereka makai musik pengiring. Tanpa musik pengiring, mereka jadi kacau.


Asli, stres. Sama Riri sering akhirnya saling pandang, hopeless.


Korlap entah dimana pula.


 


Jam 7.


Molor satu jam, Ihsan One Year Aceh Tsunami Remembrance dimulai.


Jangan tanya urut-urut acara dan gimana jalannya.


Saya ada di belakang panggung, ngurusi anak-anak.


Berdua Ifa, (Ada Yeni juga tentunya....Mbak Neng dan Adam di ruang suara) mengatur operet.


Sukses?


Kata yang liat, anak-anak aktingnya bagus. Alhamdulillah.


Ketika tim nasyid tampil, saya mengambil boks CD Raihan dan barang-barang auction lainnya. Diseling ganti nappy Wafa. Udah luber. Membasahi tight dan vest dia. Akhirnya jadi ganti baju Wafa. Suami banyak di luar, ngurusi anak-anak. Creche nggak jalan.


 


 Kembali diskusi sama Pak Dono, tentang alur auction. Mana yang duluan dijual dan seterusnya. Pak Satya udah bergabung.


Videoshow...o o o....masalah. Komputer nggak ada koneksi ke layar. Panik lah ya.


Riri udah kalang kabut.


Pak Ali saja yang cool sendiri.


Saya? Jangan ditanya.


Alhamdulillah, waktu kosong diisi Pak Mufi dengan cerita pribadinya.


Karena kurang latihan....narasi ke mana....cerita Pak Mufi lain lagi. Udah nggak sesuai dengan skrip yang saya tulis.


Untungnya, cerita beliau (karena orang Aceh juga) masih dalam alur...walaupun yang diinginkan itu, kalimat pendek2 setiap ½ menit...hingga yang banyak bicara adalah gambar.


Well, mau gimana lagi?


Juga lupa menyampaikan pesan suami. Suami mengingatkan karena gambarnya banyak yang sangat menyeramkan, harus diingatkan penonton akan keseraman itu.


Udah terlupa deh.


Sesudah videoshow, ada slide show Ihsan...


Saya membagikan pensil dan kertas untuk auction.


Auction dipandu Pak Dono dan Pak Satya. Yang satu lucu, yang satu cool. Pas dan bagus.


Peci terjual 60 pound, sarung 70 pound, and surprias, CD Raihan satu set lengkap, ditanda tangani, laku 280 pound! Satu set kerajinan tangan anak Aceh, korban tsunami laku 200 pound.


Best of all, ketika kita menjual program becak, tercatat 11 becak dibelikan penonton untuk rakyat Aceh. Satu unit konveksi juga laku.


Alhamdulillah. ALHAMDULILLAH. Hanya Dia saja yang membolak-balik hati manusia.


Ketika orang-orang dinner, saya dan Riri dapat penyakit yang sama. Tidak bisa menyuap nasi sedikitpun.


Sampai acara berakhir.


Sedihnya, sibuk di belakang dan samping panggung membuat saya tidak bisa menikmati acara. Worst, saya tidak bisa menyapa teman-teman lainnya.


Sempat hai hai dengan Mbak Amel. Tapi nggak lama. Bahkan tahunya dari yang lain, kalau ada Mbak Dian Neilson. Sama Mbak Miya dan Uni Elsye sih ketemu. Tapi, ya gitu, nggak bisa cerita lama-lama.


Taunya ada Mbak tati dari ngeliat foto Pak Dono! Hu hu huk.


Dengan Arik, sejak acara mulai, saya nggak ketemu sama sekali. Baru liat dia, ketika mau pulang...


Pulang juga serba rush. Karena udah hampir midnight. Kita nyewa kamar di travel lodge, masih 1 jam perjalanan. Takutnya, lewat jam 12 kita udah nggak dibolehkan masuk kamar.
Berbagi muatan mobil...Suami ikut keluarga Pak Ali. Saya dan anak-anak ikut Riri. Bismillah. Semoga polisi udah pada tidur...


Pak Zakky mana sangat lucu pula.


“Yang beli kerajinan nyesel tu.”


“Kenapa?”


“Iya. Tadi dia beli anak tiga kok. Anaknya mana?” (Kerajinan anak diperagakan oleh anak Al Ikhlas)


HA ha ha.


Capek, nagntuk, dan tiba-tiba perut perih.


Riri juga.


He he he. Entah kenapa, sama Riri sering banget kembaran. Baik perasaan, pikiran...hi hi.


 


Thorrock itu jauh keluar kota.


Namun, subhanallah, setelah melewati lorong sempit agak pengap, kita masuk kamar yang ....waaah...10 pound murah amat untuk kamar en suite, tempat tidur luas, disampingnya sofa duduk yang bisa disulap jadi dua single bed...Muhammad yang memang tertidur, langsung lelap. Wagfa tidur. Arik yang masih bolak-balik.


Suami bolak-balik ambil barang. Bagi makanan dengan Riri.


Dan pulesss.


 


Pagi.


Wafa dan Muhammad bangun pagi. Mandiin mereka...dan gabung ke kamar Riri untuk makan pagi...sedang para Bapak di kamar kami.


 


Adduh, anak-anak...langsung klik gitu...


Tetap ceria walau segitunya kegiatan sehari sebelumnya.


 


Ketika teman-teman panitia lain pulang Ahad, saya dan keluarga pulang Senin siang. Alasannya, apalagi kalau bukan,....tiket murah. Kalau maksain pulang Ahad, harga tiket bisa melambung dari 20 pound each...jadi 50-an. Ya, numpang tidurlah di rumah Teh Titin.


 


Berhubung, bersama begini bisa dibilang once a year, kita jalan-jalan ke pusat kota London. Westminster, aquarium. Yeni, yang sangat santun dan baik budi menemani dan membiayai. Allah sajalah yang akan membalas kebaikannya.


Bagi anak-anak, it’s  London this...and London that. Tante Yeni this and that....


Hamdallah karena satu kerja selesai...


Semoga berarti banyak...


Kerja berikutnya nunggu....


Daurah Akhwat UK....

Posting Komentar