Rabu, 21 Desember 2005

Problem Christmas

Setiap Desember, saya dan suami selalu ketar-ketir. Suasana Natalan yang sangat kental disekolah. Ada play, party, ada pantomime...dsb. Di nursery Muhammad bahkan ada Christmas corner. Dua tahun lalu, saya merumahkan Arik 2 pekan sebelum natal.


Tahun ini, karena teaching assistant di kelas Arik muslimah berjilbab,saya berusaha diskusi dengan dia tentang  keberatan saya jika arik diikutkan dengan acara natalan.Ops, jawabannya, persis sama dengan tahun sebelumnya. "The rule is there is no exemption. We celebrate all religion festival. And children are asked to join in order to  teach them to be tolerant and bla bla.'


Saya mendekati guru Arik. Menyuarakan hal yang sama. Jawabannya juga sama. 'To be tolerant'.


"You see, I am not trying to teach my children to hate  Christian or whatever...We love Jesus. We believe what he taught came from the same source. But, I want my children to see it the way i want them see it. Not to puzzle them with the other way".


"Yes, But you see. The school rule is...." on and on tentang rule...


"I might opt for him to stay at home."


Gurunya kaget. "You may. But then he will be classified as absentee."


E ge pe.


"Will it be possible for me to see the kind of christmas activities and the hours they are held?"


"I will have to come back to you later with the paper."


Yang juga tidak ada....


Sebenarnya, saya berusaha mencari teman seide.


Pulang sekolah pagi itu(sebelum percakapan dengan guru Arik|),saya mendekati sister bercadar.Ada banyak juga sister dari Pakistan dan banglasdesh yang pakai cadar, hitam-hitam.Tentu dia termasuk yang tidak akan rela jika anak kita ikut perayaan natal.


Kalau parents yang lain, biasanya acuh wee.


Bayangkan, Arik dapat kartu natal dari Maryam,Khalid, Umar,Ibrahim,dsb(Selain dari Junaye, Effie,Bob). Gimana nggak melas.


 Saya dekati dia.Setelah basa-basi,saya mengemukakan keinginan saya untuk membuat grup parent opting out of christmas celebrating.


"You see, I feel that we have to voice our opinion together, because...."


"I am not speaking English. I am Bangladesh." Dua bola mata itu nampak tersenyum.


Yaaa. Akhirnya sekedar salam dan bye-bye. Nyengir aja deh. Sembari mikir juga...how can she survives...so far  without English?


Esoknya, saya mendekati orangtua Khalid. Dia dari Mesir. Pakaiannya sehari-hari jins,fleece jumper, kets,dan jilbab unyil. Dia baru saja mendaftarkan jenis makanan yang akan dia bawa untuk Chrismas party kelas Arik.


"What will Arik bring for party?"tanyanya.


"Nothing."


"He is not coming?"


"No."


"Why?"


Bilang tidak? BIlang? Tidak? Dia tersinggung gak jika saya omong?


Lama saya tatap dia. "It's haram,sister."kata saya pelan.


Dia langsung berhenti jalan. "What?"


Saya jelaskan fatwa ulama eropa blabla bla. 


"Astaghfirullah....why did not you tell me before?Ya Allah! I don't know! I wish you tell me before."


Saya meringis. Adduh deh Mun! Karena ngeliat tampilannya kan? Ternyata....


Siangnya saya bawakan buku fatwa itu. Diskusi semakin berkembang. Dia pikir, kalau orang dewasa yang ikut celebration, itu haram. Tapi kalau anak-anak, boleh.


"But ukhti, i know they are underage. Are not obliged to do wajib thing such as sholah. But, isn't it part of our 'tarbiyatul aulad'? To show them what is the true and the right thing from the beginning?"


Dia baru aware...


Kita bicara setengah Inggris,...setengah pakai term Arab...


"Buku itu  bahkan dicetak dipercetakan kota suaminya!! Zainab something.


"I will ask my friend to get me this book."


Alhamdulillah.....Allah jugalah yang membukakan hatinya.


Eniwei, Arik dan Muhammad akhirnya saya rumahkan sejak sepekan lalu. Siang tadi saya ditelpon 'family liasson officer' Mrs. Ahmad, menanyakan Arik dan Muhammad.


"Arik had a high temperature. So, thinking that he might bring with infection to school,...bla bla." 3 Hari Arik memang minum paracematol. Tapi Muhammad is okay.


"Is there any problem with Christmas?"


Ooo, here we go...


Ya udah....I poured my heart out...ttg guru yang nggak komunikatif...dst...


Akhirnya, beliau janji kita ketemu lagi next term...


"We don't want the children to be left out of school, you know. Easily we can discused it. Arik can be given something else to do...if there is a christmas event in his class.. It will be difficult for the small one.But,as we say, Arik will be okay."


Napa nggak dari kemarin2 atuuuh.


Grrr.


Mrs.Ahmad, janji ya...anak-anak aye kagak dipaksa ikut natalan.


 


 

Posting Komentar