Minggu, 16 September 2007

Kejujuran = Bikin Malu

Muhammad cenderung perhatian dengan sekitar dan kritis.

Seperti kebiasaan hari libur, mereka main ke rumah 'Auntie Atas'. Ada pasangan muda Libya menggantikan keluarga Amal. Sang istri, ketahuan namanya Marwah, suka dengan anak-anak dan sering mengajak ngobrol bocah di halaman belakang dan akhirnya ngajak mereka main ke rumahnya.

Awalnya setiap Umi ngajak Marwah ngobrol, dianya selalu kayak terburu-buru. Atau menghindar. Kata suami Marwah, istrinya tidak bagus berbahasa Inggris. Namun, dengan anak-anak,  komunikasi dia lancar sekalee.

Anak-anak yang memberi tahu nama Auntie: Marwah. Nama uncle Ahmad atau siapa gitu. Kurang jelas. Termasuk, tanggal berapa auntie ulang tahun, kek kek kek *note: Bulan lalu ada tiga yang ulang tahun di rumah, jadi 'isu' ulang tahun cukup marak*

Oh iya, Auntie sangat populer karena selalu menghadiahi bujang dan gadis dengan kue, coklat, sampai es krim. *Umi juga mauuu*

Ketika satu kali mereka main ke rumah Auntie, Muhammad diberi makanan. Dengan lugu dia bertanya, "Is your food halal?"

"Ofcourse, I am Muslim. All my food is halal." jawab Auntie.

Pulangnya Muhammad lapor sama Umi. "Mi, all Auntie food is halal."

"How do you know?"

"I asked Auntie."

"What did you ask?" Umi udah deg degan.

"I said, is your food halal? And she said all her food is halal."

*konsep is dan are masih kacau*

Ohmygod!! Umi maluuuu.

"Muhammad, it is not really nice to ask that question. You know she is Muslim...."

******

Satu hari Abi ketawa-tawa cerita.

"Tadi, orang atas merokok di depan pintu belakangnya. Terus Muhammad nanya sama Abi, 'Is Muslim allowed to smoke?'"

Umi ternganga.

"Muhammad dan Abi di mana?"

"Di halaman belakang."

"Unclenya dengar nggak?"

"Ya nggak tau."

"Abi jawabnya gimana?"

Kurang ingat jawaban Abi apa, karena Umi udah keduluan panik dot kom.

Harapannya, dia terus kritis....cuman juga sensitif. Amiin

Jumat, 14 September 2007

Puasanya Para Bujang

Tahun-tahun lalu, dua bujang sudah puasa. Mulai dari setengah hari, sampai akhirnya, fullday. Dua-duanya jadi perbincangan guru dan orangtua murid yang lain.

"They are still very young.....bla bla bla."

Tapi, cueeek. Anak-anaknya mau kok.

Tahun ini, alhamdulillah, ada ramadhan club di sekolah. Khusus KS2. Artinya Muhammad tidak bisa ikut. Akhirnya Umi datang ke sekolah -biasanya Abi yang antar jemput-. Seperti biasa, "He is too tiny to do fasting,"kata guru koordinator ramadhan club. yang lebih telak lagi, "I spoke to the Imam (Imam mesjid dekat rumah), he said, he was still too young for fasting."

Umi keep on insisting. Mau jelasin tentang puasa gradualy longer each day, Ms Ainsley udah keburu jutek.

Oh dear.

Tapi, pas ketemu guru Muhammad, agaaiin, diundang masuk kelas. PAdahal belum diskusi langsung sma Mrs Gilespie. Tapi, "We understand how important it is for you. We let him to join the club. Just him. Don't spread the word, because other parents will want the same."

Umi nyengir.

Mumpung Mrs Gilespie sedang mau mendengar, Umi jelasin proses puasa anak-anak. Mulai dari masa breakfast biasa, then, kalau pulang sekolah mereka mau makan, dibolehkan. Kalau mereka mau meneruskan puasa, terserah mereka. Dan semua kesepakatan bersama.

Gitu.

Hari pertama

Sahur = masa breakfast. Umi nyediain nasi dan lauk. Biasanya mereka cuma makan cereal. Tapi, rasanya cereal nggak akan cukup sustain mereka sampai sore.

Nasi + lauk  ~ sarapan yang lamaaaa. Sampai hampir telat ke sekolahnya.

Muhammad sampai kelupaan minum!

Umi panik. Mikir, ni anak, terakhir minum sebelum tidur. Alamak. Akhirnya nelpon sekolahannya. Bilang, in case Muhammad wants to have drink anytime of the day, he is allowed.

Dengan bangga Muhammad bilang, "I can 'tahan'. I want to fast. I did not drink at school."

Jam 5.30 Muhammad tidak tahan, dan buka.

Abang Arik terus puasa sampai maghrib 7.30.

Ketika pilau rice Umi masak, Muhammad menambah makan, sampai 3 kali! Ditambah 2 dates, 2 donat, teh panas.

Hari ini Bang Arik deserve mendapatkan reward 50p. Dan 6 points.

Esok, mau bangun lebih awal, kata mereka. Mau sahur sama Abi.

Alhamdulillah.

Semoga, seperti kata Arik, "We do fasting so we understand how the poor people is, who doesn't have things to eat."

Kalau Muhammad masih, "I fast, then I eat alooooot more." Which is fair enough.

 

Sabtu, 08 September 2007

Ke Alnwick Castle/ last summer




Keluarga Coventry berkunjung...dengan Ibu dan Om Tino.
Masih ada space untuk Umi dan anak-anak, dengan tega ninggalin Abi di rumah dan ikut wisata ke Alnwick. Anak-anak loved every seconds of it.
Ada 'lost children' scare, he he, ketika empat anak lost, out of sight! Umi dan Tante hampir out of mind, lari-lari, nyari bocah.
Dua sedang main air di ujung water fountain. Dua di dekat restoran...nyari Umi

Foto Resep Nasi Pilau/Pilau Rice




Dulu janji mau posting fotonya. Ada di HP. Baru saja Abi memindahkan foto HP ke kompi, jadi bisa diupload.

Sabtu, 25 Agustus 2007

7 kali masuk keluar rumah sakit, di kamar 7, Ibrahim Faruqi lahir di ruang operasi

Hari-Hari Jelang Kedatangan Ibrahim Faruqi

 

25 Juli Rabu

Appointment dengan Alison, community midwife. Cerita, kalau semalam sempat ada labour scare, ada kontraksi walau tidak teratur, namun terus. Alison mengirim ke RVI hari itu juga. Masuk RVI jam 6.30 pm ke maternity assessment unit. Satu dokter India muda bertanya dengan agresif, “You know the difference between bracton hicks and labour contraction, don’t you?”

 

Yee, saya mah nggak pengen kok ke RS. Ini juga dikirim midwife karena kehamilan sebelumnya, kisahnya hampir sama.

 

Malam itu dikirim ke ward 34 dan esok siangnya boleh pulang. Horeee.

 

31 Juli Selasa

Appointment dengan Miss E Michael, konsultan. Yang menangani Elaine. Elaine minta sore itu masuk ke ward 34, siap-siap untuk tinggal at least for a week time.

Minta masuknya esok saja, karena Abang ada eye test.

 

1 Agustus Rabu

Datang ke ward 34 sendiri. Abi dan anak-anak di rumah saja. Masih capek dari kegiatan sehari sebelumnya. Kamis Sarah datang. Abi dan anak-anak juga, sekalian ambil kaca mata baru Abang Arik. Jumat Dr Jason *Yang pede itu* datang pagi hari, memastikan, masih puasa atau tidak.

Siang Julie mau ECV, tapi kepala bayi sempat di bawah beberapa menit, kemudian pindah lagi. Masih 1 cm dilation, susah pecah ketuban. Dikirim pulang, diminta datang Jumat lagi.

 

4 Agustus Sabtu malam, ada show dan tightening. Telpon ke MAU, disuruh datang ‘NOW!’. Pak Yazid dan Umi tinggal di rumah, menemani anak-anak.

Ya, kontraksi....1 X 3 menit....

Pindah ke delivery room.

Masih 1 cm....Tidak bisa pecahkan ketuban...

Pindah lagi ke ward 34....

Dr. Jason menjamin, Senin dia akan memutar bayi dan memecahkan ketuban.

Note: Setiap pemeriksaaan, posisi bayi tidak ada yang sama dari yang sebelumnya. ‘All over the place.’

 

Senin, the delivery ward is extremely busy....you can stay here untill Friday, or you can go home...

 

Pulang lagi Senin itu.

 

10 Agustus, Jumat.

Datang sebelum jam 8 dengan Abi. Dikirim ke ward 32. Dijemput ke sana oleh midwife setelah jam 8.30. Masuk induction room. Baru ditengok midwife dan dokter 3 jam kemudian. Dikirim ke ward 34. Boleh makan dan minum. Nanti, kalau ruang theater kosong, kami akan jemput kamu ke sini.

 

Ward still extremely busy.

Julie minta maaf dan meyakinkan Senin nanti akan ada resouces dan space untuk Umi. Disuruh balik Senin lagi.

 

13 Agustus, Senin

Balik lagi. Kali ini datang agak siangan.

Dr Abdul dan Dr Rabia Sami. Minta ditangani lady dokter saja. Namun, Dr. Abdul bilang, mereka masih junior, tidak akan bisa melakukan ‘breaking the water, kalau masih 1 cm dilation’.

Namun, ketika Dr Rabia Sami memeriksa dalam, sungguh, amat teramat sakit. Belum lagi, rasa malu kalau harus minta Dr Abdul yang menangani.

Julie datang. Julie ngasih option, tetap dengan memakai prosedur tablet, atau pulang, namun kembali lagi Jumat.

Kalau Dr Rabia Sami yang nangani, aduh, nggak kuat tanpa pain killer. Pulang saja deh.

 

17 Agustus, Jumat

Datang lagi, kali ini sendiri dulu. Abi nyusul....Makin nggak pede saja akan ada ‘real action’, he he he.

 

Hari Jumat pagi, seperti yang disuruh Julie, saya kembali ke RVI. Kali ini sendiri, setelah jam 9 pula. (Sampai di ward udah hampir jam 10 *nyengir*)Pengalaman yang sudah-sudah, datang sebelum jam 8 pun (dulu disuruh datang jam 8), baru ditengok jam 11. Asumsinya, paling ntar kayak begitu. Sedang Abi menyiapkan anak2 untuk pindah rumah ke Tante Nur.

 

Begitu sampai, di lorong ada Dr. Abdul dan yang lain. Bertukar salam. Namun, sekilas, nampak muka beliau agak mendung. Kali, masih kepikiran dengan penolakan saya yang dahulu ketika akan ditreatment beliau.

 

Begitu sampai di midwife station, Kristy, midwife ceria yang curly, langsung menggelandang ke ruang induksi.

“We are not going to allow you home without your baby, today, Maimon.”

 

Wah.

 

Langsung diperiksa tensi dan sebagainya. Sekalian bilang, kalau suami masih mengurus childcare anak-anak.

 

Abi datang. Tak lama kemudian, Dr Abdul datang bersama beberapa orang. Beliau menyalami Abi. Bertanya tentang anak-anak bagaimana, siapa yang menjaga.

“Your friend is very kind.” (Hallo, Tante Nur, Om Hery)

“Yes, they are, alhamdulillah”.

“You will have to let me do it this time.” Wajah beliau prihatin, namun juga seperti sudah membulatkan pikiran.

Kami mengangguk. “Whatever the best for the baby, Dokter.”

 

Jam sebelas lewat, tak lama dari kedatangan beliau yang pertama, beliau datang dengan alat scan.

As usual, kepala baby sudah berubah lagi dari posisi terakhir scan. Sebelumnya di 4, sekarang di 10 (bayangkan jam dengan 12 tangan). Dr. Abdul menekan ke arah atas. Kepikiran, apa maksudnya, menjadikan kepala pas di atas? Dalam waktu kurang dari semenit, beliau berkata, kepala sudah di bawah.

Asli, melongo. Secepat itu? Selembut itu? Tidak ada rasa sakit sedikit pun? Dikira Julie sudah paling  lembut memutarnya, namun Dr. Abdul lebih lembut lagi.

 

Ketika discan, betul, kepala sudah dibawah.

 

“I am going to break the water now. You can still be covered.” 

 

Kepada Allah sajalah dikembalikan segala sesuatu.

Alhamdulillah, Dr Abdul sangat mengerti perasaan saya. Dan, wajar, kemudian  saya tahu, Dr. Abdul hari itu, merupakan Dokter paling senior di Maternity Ward. Di sana ada 4 peringkat dokter. Dokter junior, registrar, senior house registrar, lalu the top man (ini kalo nggak salah tangkap ya, jenjangnya). Dan Dr. Abdul yang the top mannya.

Allah sajalah yang menggerakkan hati beliau untuk langsung menangani saya.

 

Dan betul, dengan tetap tertutup aurat, Dr. Abdul memecahkan ketuban. Walau sakit. Namun, karena beliau juga Muslim, jadi  tidak ragu juga untuk berdzikir agak keras.

 

Wajar dikatakan air di sekitar baby masih banyak. Ketika dipecahkan, walau awalnya merembes, namun ke sininya, air itu menderas seperti tap water.

 

Jam 12 dipindah dari Induction room ke delivery room.

 

Room 7.

 

"This is my seventh coming to hospital, you know."

 

"Dear me, you must be fed up with us all."

 

"No no no."

 

"I hope your room, number 7 is a lucky number for you."

 

Allah suka nomor 7.

 

Yang menangani sudah ganti-ganti. Kadang Kristy, ada juga Alison, lalu siapa lagi. Tapi yang terus bersama sampai malam Kate Wilson, bidan tua yang, wah, asli, bikin ketakutan akan MRSA sangat terasa. Ada Una, ahli anestesis.

 

Becky, dokter wanita, memasangkan kepala drip. Dikasih sintocinon (?) untuk membuat kontraksi datang. Jam 13 ish, kepala bayi seperti pindah ke posisi 5. Planning Caesar langsung dibuat. Una datang. Menunggu ruang theatre kosong, lalu akan tiba giliran dibedah. Wah, kaget juga, secepat ini? Dr Abdul datang, memeriksa dan mengembalikan kepala ke atas pelvis. Diskusi tentang timing dan sholat Jumat. Dr. Abdul meyakinkan Abi kalau Abi masih sempat sholat Jumat. Operasi akan dilakukan setelah Abi datang.

 

Jam 14 kepala bayi diperiksa lagi, masih stabil di atas pelvis. Sementara rencana Caesar ditunda. Dilihat lagi progress ke depan.

 

Rasa sakit kontraksi mulai menghebat. Orang-orang berkata, sakit kontraksi karena induksi jauuuh lebih sakit daripada kontraksi normal.

 

Betul.

 

Pada puncak rasa sakitnya, bisa 3 X lebih sakit daripada melahirkan bujang-bujang. Udah gitu, kalau bujang-bujang sakitnya perlahan naik, dan makin sering, sampai akhirnya 1 X 3 menit. Kalau ini langsung 1 X 3 menit dan sakiiit. Jadi, agak terkaget-kaget juga.

 

Jam 9 periksa dalam, bukaan 3.

 

Wah, dari bukaan 3 (yang disebutnya juga early labour bagi yang sudah punya anak 3), kalau  1 cm = 1 jam, berapa lama lagi?

 

Karena gas and air (ethonox) membuat fly yang membuat susah dzikir. (Asli, fly itu tak enak), minta epidural saja. Karena chance operasi dan dengan sendirinya memakai epidural pun masih tinggi, sekalian saja. Dan ternyata persiapan epidural itu juga lama. Jadi, sejak jam 9, mata melulu melihat ke jam. Detik menuju angka 9, isap gas, 7 kali isap panjang, letakkan nozzlenya, cari tangan Abi, dan nikmati rasa sakit campur fly….

 

Ketika akhirnya epidural mulai berfungsi, baru bisa melihat ke sekitar. Yang ngasih epidural bukan Una lagi, tapi night anestesis, Dr. Mike Blundell.

 

Dari jam 10 menuju jam 1 pagi, mulai lega. Bisa sedikit istirahat, walau tak bisa tidur juga. Karena, namanya close observation, setiap saat dilihat ‘trace’ monitor. Baby tidak happy setiap kontraksi. Jantungnya bahkan sampai turun 45-ish. Jam 1 itu periksa dalam lagi. Kali ini bukan Lindsay, bidan malam,  yang melakukan, tapi dokter yang di bawah Dr. Abdul, Dr. Khrisnan.

 

Dan tak memahami perasaan sungkan muslimah.

 

Believe it or not, masih bukaan 3!!

 

Ya, operasi, NOW.

 

Menunggu ruang operasi kosong. Siap-siap dengan berbagai hal. Jam 2 didorong ke theatre.

 

Perasaan udah campur aduk.

 

Yang akan operasi Dr. Jonatan Lartey. Dia menjelaskan side effect yang membuat hati ciut.

 

Dahulu, ketika operasi Wafa, masuk jam 10 lewat, Wafa lahir jam 10.20-ish, 10.40 sudah di recovery. Roughly ½ jam dalam ruang operasi itu.

 

Nyatanya, dengan baby Ibrahim, masuk jam 2, Baby diangkat dari rahim 2.38, baru keluar ruang operasi jam 3.30.

 

Kata Abi, ada slice of me yang dibuang, setebal 3-4 milimeter (mungkin old scar). Lalu, proses mengambil baby pun lama, karena begitu drip dihentikan, dia balik ke posisi atas.

 

Istilah bahasa Umak, ‘perut ini dikuok-kuok’…ada yang mendorong dari atas, ada yang groping dan yanking.

 

Ketika dijahitpun, prosesnya lama. Sepertinya, mereka menggunakan posisi luka lama, hingga jadinya lebih lama.

 

Tali plasenta Ibrahim mengalungi leher dan badan. Tidak sekali jerat, namun dua kali. Itu yang membuat detak jantungnya menurun ketika kontraksi.

 

Alhamdulillah, semuanya lancar.

 

Ada lah pengalaman tak nyaman, namun, toh jihad memang tak mudah. Kalau mudah, ya, serasa kurang maknanya.

 

Semoga Allah menerima jihad ini.

Kedatangan Ibrahim Faruqi




Penantian panjang

Sabtu, 11 Agustus 2007

(Up date Penantian) Do You Have Metal Implant in Your Body? (?*#!?)

Karena tidak bisa balas SMS satu-satu, atau imel satu-satu, dituliskan saja ya updatenya.

Jumat, jam 7 pagi (persis) Tante Nur datang menjemput anak-anak. 2 Bujang sudah sarapan. Wafa belum. Sekalian mengambil anak-anak, sekalian Umi diantar ke RVI. Makasih, Tante.

Abi naik bus dengan lugage dan backpack.

Nunggu di sebelah reception. Hari masih terlalu pagi. 7.15. Baru ada security guard yang manning the desk. Pegawai RVI berdatangan. Coffee shop mulai dibuka. Satu dua pasien dan keluarga membeli minuman panas.

Abi datang menjelang 7.45. Kita naik ke Maternity Unit. Receptionnya agak bingung. Biasanya ibu hamil masuk maternity assessment uni dulu, baru diputuskan akan dimasukkan ke mana. Ini kok langsung ke delivery room?

"Are you having induction today?"

Hm, part of the procedure, sih.

Dia nelpon ke DS.

Do you expect Mrs Herawati? Up to you. Oh, they are having conference at the moment. You just go straight to ward 32.

Loh? Ward 32 kan post natal, tempat Ibu-ibu habis melahirkan?

Iya, supaya kamu lebih nyaman.

Disuruh tunggu di Day Room. Ada satu pasangan bule yang sudah duduk di sana. Nggak lama kemudian, datang midwife, mau menunjukkan di mana tempat tidur.

Loh loh? Kan belum melahirkan? Apa maksudnya, ini tempat tidur untuk nanti sekalian, atau bagaimana?

"You will have your elective caesarean section. Today?"

Ya, nggak tau. Katanya sih, putar bayi dulu, lalu pecahin ketuban. Operasi mah kan option terakhir.

Hm, mulai 'pasti' nih.

Nunggu di ruangan dengan tiga ibu dan tiga bayi. Mulai mengumpulkan kosentrasi. Midwife dari delivery suite menjemput. Masuk ruangan 9 sekarang. Sebelumnya ruangan 10, sebelumnya lagi ruangan 5.

Beliau mulai ngisi form.

Pakai anting? Pakai kalung? Makai plaster? Punya gigi palsu?

He he heh....

"Are we aiming for caesarean section? It looks like the questions are for the procedure."

Yah, siap-siap saja. Jadi, nanti, nggak perlu repot-repot.

Ada metal implant dalam tubuh?

Umi binguuung, maksudnya metal implant itu yang seperti apa? Silicon di boobs? Jelas nggaaak dooong.Semuanya asli kok, sesuai asal pemberian Allah.

Oh, misalnya di lutut ada besi yang mengaitkan kaki patah, atau semacam itu.

Alhamdulillah enggak.

Kita ditinggal lagi.

Lalu midwife yang sama datang lagi, bawa tablet anti muntah. Ini tablet yang selalu diberikan pada ibu-ibu melahirkan normal atau operasi. Supaya tidak mutah.

Abi tanya, pas Wafa Umi dikasih tablet nggak? Rasanya sih enggak. Lha, pas Wafa semua berjalan kilat.

Hari sudah menjelang 8.30. Umi perlu toilet. Kamar yang ini tak ada toiletnya. Akhirnya memberanikan diri ke midwife station. Ada dokter yang ECV Jumat lalu, namanya Julie, juga Dokter Jason. Dua-duanya sedang sarapan.

Julie menunjukkan toilet di induction room. Dan dia janji untuk menemui kita 'in a few minutes time'.....

Bahasa dokter 'few minutes time' = 2 jam. Dua jam duduk dengan Abi di ruangan delivery nomor 9. Nobody came looking at us...just us....

Umi mulai mikir-mikir untuk pulang saja.

Abi dah ngantuk-ngantuk.

Dokter Jason datang sekejab. Membuat umi terperanjat.

"I am sorry. I'll be back in second. Don't worry, it's definitely today. It's today." Lalu doski hilang lagi.

Hm, Umi dan Abi cengar-cengir. Dokter Jason masih belum belajar. Kalau nggak bilang 'insya Allah' nggak jadi loooo.

Jangan-jangan deh.

Kita diskusi; Few minutes = 2 jam. Second? Kira-kira  berapa lama? Abi bilang, mungkin 1/2 jam.

Hampir sejam deh.

Yang datang bukan Dokter Jason, bukan Judith (midwife yang ngambil ke ward 32), bukan Julie, dokter yang ECV. Tapi Kristy, a curly dark hair midwife yang penuh senyum.

Maaf, membuat kamu menunggu. tapi, ward sangat sibuk sekali. Supaya nyaman, kamu istirahat dulu di ward 34 ya. Nanti, beberapa jam lagi, kalau ruang operasi sudah kosong, kami akan jemput kamu ke sana....

Balik ke ward 34??? Bed 7, bay 2...Semua temannya dah ganti. Nggak ada yang lama.

"Umi harus nempelin plakat di bed ini nih," kata Abi. Bed khusus Umi.

Ya sudah, karena juga capek, Umi tidur. Semalam susah tidur soalnya.

Ketika midwife datang, sekalian nanya saja. Berapa jam lagi kira-kira? Boleh minum dikit nggak? Kerongkongan dah sangat kering.

Yah, nanti ditanya ke delivery ward.

Abi boleh tinggal pas quiet time, karena rencananya akan balik ke delivery suite.

"Maimon, they let you to eat and drink."

O o o o ....

Apakah artinya, plan hari ini digagalkan lagi?

Mungkin tidak. Mungkin kamu masuk ruang operasi late at night.

*Sigh*

Makanan yang disediakan porsinya seuprit. Nggak cukup untuk mak-mak yang udah nggak makan sejak jam 6 sore. Jam 8 malam makan something, tapi keluar lagi semua. Karena Abi sekalian ke mesjid, minta dibelikan nasi lunch di mesjid. Tak lama, Umi ketemu midwife di dapur -Umi nyari tambahan makanan-, midwife akhirnya nyariin tambahan makanan.

Habis makan, Abi dah balik dari sholat, Julie datang.

Aduh, kamu pasti sudah fed-up dengan kita ya. Maaf...maaf. Kamu bagitu sabar dengan kita. Tapi, saat ini, delivery suite was extremely busy....

Bukankah hal yang sama juga terjadi Senin lalu? Umi ngerti, Umi bukan emergency case.

Kalau saja Maimon potong kompas, straight to caesarean section, masalahnya akan lebih simpel. Ini karena harus putar bayi dulu, pecahin ketuban dulu dsb.

Hhh.

I had two normal delivery before. If there is any possibility to have one, i will be glad to have it.

Iya.Iya. Kalau kamu tidak pernah normal delivery, kita memang tidak akan mencoba normal delivery. We know that you had twice normal delivery. And we will try to have it now.

Tapi, seakan, Umi jadi sangat ngerepoti orang sekampung.

There is no right or wrong approach on your case, because this is a unusuall case. Sudah week 38 + 5, bayi masih all over the place. So, we treat it as we go.

Julie meriksa, bukaan masih 1 cm. Tidak ada perkembangan. Masih susah pecahin ketuban.

Bagaimana dengan pemakaian tablet untuk melunakkan cervic itu?

Kalau pakai tablet, when we break the water, you might have a painful experience, and we need to give you epidural.

Senin diminta datang lagi.

Umi cuma bisa tersenyum pasrah.

"I will make sure there is a space and resources available for you on Monday, but again, it pretty much depend on the situation..."

Ya. ya...kalau extremely busy lagi....Umi pulang lagi....

Sedih ya.

"There is no guarantee that you are not going to have labour this week end. If comes the worst, baby's hand might come out first, or the placenta dangling out. If it happens, caesarean section is the only choice."

Duh, jadinya, ngerasa ditakut-takuti gini. Yang ketangkap sama Umi: Udah deh, operasi saja. Simpel dan tidak rumit. Lebih aman.

Pulang lagi deeeeh.

Malamnya nelpon Sarah. Sarah menganjurkan, let the nature take its course. If you have to have caesarean section, then be it. When we are fiddling too much with the labour, the result sometimes is not desirable. There is a lot more complication than when we let nature handle it.

Always the voice of wisdom. Sarah's.

Lagian, rumah kan cuma 10 menit dari RVI. It's not that you know nothing about labour sign. You know exactly when you need to go there.

Iya lah, pergi saja Senin itu. Kalau masih 'extremely busy', minta off saja dari register 'putar bayi dsb' dan datang jika dah mau melahirkan saja.

Agak tenang.

Semalam, Umi baru ngerti maksud ini:

TCI 0800  10.08.07  ¬ ECV + I -I0C

Kalau Abi menafsirkan, plus minus ini maksudnya apa? Pake celsius pula....Nggak masuk di akal.

TCL 0800 10.08.07 = datang jam 08.00, pada tanggal 10 Agus.

ECV = putar bayi

+ I = plus induction....pecahin ketuban dan put on drip

-I0 = Kalau induction zero, alias gagal

C = elective caesarean section.