Sabtu, 25 Agustus 2007

7 kali masuk keluar rumah sakit, di kamar 7, Ibrahim Faruqi lahir di ruang operasi

Hari-Hari Jelang Kedatangan Ibrahim Faruqi

 

25 Juli Rabu

Appointment dengan Alison, community midwife. Cerita, kalau semalam sempat ada labour scare, ada kontraksi walau tidak teratur, namun terus. Alison mengirim ke RVI hari itu juga. Masuk RVI jam 6.30 pm ke maternity assessment unit. Satu dokter India muda bertanya dengan agresif, “You know the difference between bracton hicks and labour contraction, don’t you?”

 

Yee, saya mah nggak pengen kok ke RS. Ini juga dikirim midwife karena kehamilan sebelumnya, kisahnya hampir sama.

 

Malam itu dikirim ke ward 34 dan esok siangnya boleh pulang. Horeee.

 

31 Juli Selasa

Appointment dengan Miss E Michael, konsultan. Yang menangani Elaine. Elaine minta sore itu masuk ke ward 34, siap-siap untuk tinggal at least for a week time.

Minta masuknya esok saja, karena Abang ada eye test.

 

1 Agustus Rabu

Datang ke ward 34 sendiri. Abi dan anak-anak di rumah saja. Masih capek dari kegiatan sehari sebelumnya. Kamis Sarah datang. Abi dan anak-anak juga, sekalian ambil kaca mata baru Abang Arik. Jumat Dr Jason *Yang pede itu* datang pagi hari, memastikan, masih puasa atau tidak.

Siang Julie mau ECV, tapi kepala bayi sempat di bawah beberapa menit, kemudian pindah lagi. Masih 1 cm dilation, susah pecah ketuban. Dikirim pulang, diminta datang Jumat lagi.

 

4 Agustus Sabtu malam, ada show dan tightening. Telpon ke MAU, disuruh datang ‘NOW!’. Pak Yazid dan Umi tinggal di rumah, menemani anak-anak.

Ya, kontraksi....1 X 3 menit....

Pindah ke delivery room.

Masih 1 cm....Tidak bisa pecahkan ketuban...

Pindah lagi ke ward 34....

Dr. Jason menjamin, Senin dia akan memutar bayi dan memecahkan ketuban.

Note: Setiap pemeriksaaan, posisi bayi tidak ada yang sama dari yang sebelumnya. ‘All over the place.’

 

Senin, the delivery ward is extremely busy....you can stay here untill Friday, or you can go home...

 

Pulang lagi Senin itu.

 

10 Agustus, Jumat.

Datang sebelum jam 8 dengan Abi. Dikirim ke ward 32. Dijemput ke sana oleh midwife setelah jam 8.30. Masuk induction room. Baru ditengok midwife dan dokter 3 jam kemudian. Dikirim ke ward 34. Boleh makan dan minum. Nanti, kalau ruang theater kosong, kami akan jemput kamu ke sini.

 

Ward still extremely busy.

Julie minta maaf dan meyakinkan Senin nanti akan ada resouces dan space untuk Umi. Disuruh balik Senin lagi.

 

13 Agustus, Senin

Balik lagi. Kali ini datang agak siangan.

Dr Abdul dan Dr Rabia Sami. Minta ditangani lady dokter saja. Namun, Dr. Abdul bilang, mereka masih junior, tidak akan bisa melakukan ‘breaking the water, kalau masih 1 cm dilation’.

Namun, ketika Dr Rabia Sami memeriksa dalam, sungguh, amat teramat sakit. Belum lagi, rasa malu kalau harus minta Dr Abdul yang menangani.

Julie datang. Julie ngasih option, tetap dengan memakai prosedur tablet, atau pulang, namun kembali lagi Jumat.

Kalau Dr Rabia Sami yang nangani, aduh, nggak kuat tanpa pain killer. Pulang saja deh.

 

17 Agustus, Jumat

Datang lagi, kali ini sendiri dulu. Abi nyusul....Makin nggak pede saja akan ada ‘real action’, he he he.

 

Hari Jumat pagi, seperti yang disuruh Julie, saya kembali ke RVI. Kali ini sendiri, setelah jam 9 pula. (Sampai di ward udah hampir jam 10 *nyengir*)Pengalaman yang sudah-sudah, datang sebelum jam 8 pun (dulu disuruh datang jam 8), baru ditengok jam 11. Asumsinya, paling ntar kayak begitu. Sedang Abi menyiapkan anak2 untuk pindah rumah ke Tante Nur.

 

Begitu sampai, di lorong ada Dr. Abdul dan yang lain. Bertukar salam. Namun, sekilas, nampak muka beliau agak mendung. Kali, masih kepikiran dengan penolakan saya yang dahulu ketika akan ditreatment beliau.

 

Begitu sampai di midwife station, Kristy, midwife ceria yang curly, langsung menggelandang ke ruang induksi.

“We are not going to allow you home without your baby, today, Maimon.”

 

Wah.

 

Langsung diperiksa tensi dan sebagainya. Sekalian bilang, kalau suami masih mengurus childcare anak-anak.

 

Abi datang. Tak lama kemudian, Dr Abdul datang bersama beberapa orang. Beliau menyalami Abi. Bertanya tentang anak-anak bagaimana, siapa yang menjaga.

“Your friend is very kind.” (Hallo, Tante Nur, Om Hery)

“Yes, they are, alhamdulillah”.

“You will have to let me do it this time.” Wajah beliau prihatin, namun juga seperti sudah membulatkan pikiran.

Kami mengangguk. “Whatever the best for the baby, Dokter.”

 

Jam sebelas lewat, tak lama dari kedatangan beliau yang pertama, beliau datang dengan alat scan.

As usual, kepala baby sudah berubah lagi dari posisi terakhir scan. Sebelumnya di 4, sekarang di 10 (bayangkan jam dengan 12 tangan). Dr. Abdul menekan ke arah atas. Kepikiran, apa maksudnya, menjadikan kepala pas di atas? Dalam waktu kurang dari semenit, beliau berkata, kepala sudah di bawah.

Asli, melongo. Secepat itu? Selembut itu? Tidak ada rasa sakit sedikit pun? Dikira Julie sudah paling  lembut memutarnya, namun Dr. Abdul lebih lembut lagi.

 

Ketika discan, betul, kepala sudah dibawah.

 

“I am going to break the water now. You can still be covered.” 

 

Kepada Allah sajalah dikembalikan segala sesuatu.

Alhamdulillah, Dr Abdul sangat mengerti perasaan saya. Dan, wajar, kemudian  saya tahu, Dr. Abdul hari itu, merupakan Dokter paling senior di Maternity Ward. Di sana ada 4 peringkat dokter. Dokter junior, registrar, senior house registrar, lalu the top man (ini kalo nggak salah tangkap ya, jenjangnya). Dan Dr. Abdul yang the top mannya.

Allah sajalah yang menggerakkan hati beliau untuk langsung menangani saya.

 

Dan betul, dengan tetap tertutup aurat, Dr. Abdul memecahkan ketuban. Walau sakit. Namun, karena beliau juga Muslim, jadi  tidak ragu juga untuk berdzikir agak keras.

 

Wajar dikatakan air di sekitar baby masih banyak. Ketika dipecahkan, walau awalnya merembes, namun ke sininya, air itu menderas seperti tap water.

 

Jam 12 dipindah dari Induction room ke delivery room.

 

Room 7.

 

"This is my seventh coming to hospital, you know."

 

"Dear me, you must be fed up with us all."

 

"No no no."

 

"I hope your room, number 7 is a lucky number for you."

 

Allah suka nomor 7.

 

Yang menangani sudah ganti-ganti. Kadang Kristy, ada juga Alison, lalu siapa lagi. Tapi yang terus bersama sampai malam Kate Wilson, bidan tua yang, wah, asli, bikin ketakutan akan MRSA sangat terasa. Ada Una, ahli anestesis.

 

Becky, dokter wanita, memasangkan kepala drip. Dikasih sintocinon (?) untuk membuat kontraksi datang. Jam 13 ish, kepala bayi seperti pindah ke posisi 5. Planning Caesar langsung dibuat. Una datang. Menunggu ruang theatre kosong, lalu akan tiba giliran dibedah. Wah, kaget juga, secepat ini? Dr Abdul datang, memeriksa dan mengembalikan kepala ke atas pelvis. Diskusi tentang timing dan sholat Jumat. Dr. Abdul meyakinkan Abi kalau Abi masih sempat sholat Jumat. Operasi akan dilakukan setelah Abi datang.

 

Jam 14 kepala bayi diperiksa lagi, masih stabil di atas pelvis. Sementara rencana Caesar ditunda. Dilihat lagi progress ke depan.

 

Rasa sakit kontraksi mulai menghebat. Orang-orang berkata, sakit kontraksi karena induksi jauuuh lebih sakit daripada kontraksi normal.

 

Betul.

 

Pada puncak rasa sakitnya, bisa 3 X lebih sakit daripada melahirkan bujang-bujang. Udah gitu, kalau bujang-bujang sakitnya perlahan naik, dan makin sering, sampai akhirnya 1 X 3 menit. Kalau ini langsung 1 X 3 menit dan sakiiit. Jadi, agak terkaget-kaget juga.

 

Jam 9 periksa dalam, bukaan 3.

 

Wah, dari bukaan 3 (yang disebutnya juga early labour bagi yang sudah punya anak 3), kalau  1 cm = 1 jam, berapa lama lagi?

 

Karena gas and air (ethonox) membuat fly yang membuat susah dzikir. (Asli, fly itu tak enak), minta epidural saja. Karena chance operasi dan dengan sendirinya memakai epidural pun masih tinggi, sekalian saja. Dan ternyata persiapan epidural itu juga lama. Jadi, sejak jam 9, mata melulu melihat ke jam. Detik menuju angka 9, isap gas, 7 kali isap panjang, letakkan nozzlenya, cari tangan Abi, dan nikmati rasa sakit campur fly….

 

Ketika akhirnya epidural mulai berfungsi, baru bisa melihat ke sekitar. Yang ngasih epidural bukan Una lagi, tapi night anestesis, Dr. Mike Blundell.

 

Dari jam 10 menuju jam 1 pagi, mulai lega. Bisa sedikit istirahat, walau tak bisa tidur juga. Karena, namanya close observation, setiap saat dilihat ‘trace’ monitor. Baby tidak happy setiap kontraksi. Jantungnya bahkan sampai turun 45-ish. Jam 1 itu periksa dalam lagi. Kali ini bukan Lindsay, bidan malam,  yang melakukan, tapi dokter yang di bawah Dr. Abdul, Dr. Khrisnan.

 

Dan tak memahami perasaan sungkan muslimah.

 

Believe it or not, masih bukaan 3!!

 

Ya, operasi, NOW.

 

Menunggu ruang operasi kosong. Siap-siap dengan berbagai hal. Jam 2 didorong ke theatre.

 

Perasaan udah campur aduk.

 

Yang akan operasi Dr. Jonatan Lartey. Dia menjelaskan side effect yang membuat hati ciut.

 

Dahulu, ketika operasi Wafa, masuk jam 10 lewat, Wafa lahir jam 10.20-ish, 10.40 sudah di recovery. Roughly ½ jam dalam ruang operasi itu.

 

Nyatanya, dengan baby Ibrahim, masuk jam 2, Baby diangkat dari rahim 2.38, baru keluar ruang operasi jam 3.30.

 

Kata Abi, ada slice of me yang dibuang, setebal 3-4 milimeter (mungkin old scar). Lalu, proses mengambil baby pun lama, karena begitu drip dihentikan, dia balik ke posisi atas.

 

Istilah bahasa Umak, ‘perut ini dikuok-kuok’…ada yang mendorong dari atas, ada yang groping dan yanking.

 

Ketika dijahitpun, prosesnya lama. Sepertinya, mereka menggunakan posisi luka lama, hingga jadinya lebih lama.

 

Tali plasenta Ibrahim mengalungi leher dan badan. Tidak sekali jerat, namun dua kali. Itu yang membuat detak jantungnya menurun ketika kontraksi.

 

Alhamdulillah, semuanya lancar.

 

Ada lah pengalaman tak nyaman, namun, toh jihad memang tak mudah. Kalau mudah, ya, serasa kurang maknanya.

 

Semoga Allah menerima jihad ini.

Posting Komentar