Rabu, 08 Agustus 2007

Hari-Hari Penantian

Jumat, 3/08

"Dokternya lupa bilang 'insya Allah'." Umi nyengir.

"Yah, Dokter kan bukan Muslim." Abi nggak melihat jokenya.

Baru saja konsultan meninggalkan bed Umi. Dia baru menjelaskan prosedur yang akan dilaksanakan. Beberapa jam lagi, baby akan diputar, ketuban dipecah dan dilihat dari sana. Apakah harus operasi, atau normal delivery.

Ini sudah pekan 37 + 5. Baby masih jumpalitan. Karena sejarah Wafa: lahir pekan 38, emergency caesarean section, rapid progress of dilation, mereka tidak mau ambil resiko yang sama.

Hari Selasa, 10 hari yang lalu, kontraksi ringan datang tengah malam. Kelahiran dua bujang dulu ditandai dengan kontraksi yang amat sakit dan lama, namun Wafa hanya kontraksi ringan dan cepat. Esok harinya, pas cek rutin dengan midwife, masalah ini disampaikan.

As expected, midwife nelpon RVI dan mendaftarkan Umi masuk Maternity Assessment Unit. Hari itu juga.

Yaa. Pulang, anak-anak makan malam dan berangkat ke RVI setelah jam 6 pm. Put into monitor, two strapping belts.

Yang nyebelin, dokter jaga, satu India, satu Greek bertanya dengan agresif, "You know the difference between labour contraction or bracton hicks, don't you?"

Yee, tau!

"The thing is I have two kinds of contraction experiences...bla...bla...bla." Sejarah lahiran dua bujang dan Wafa. Ini juga, bukan keinginan saya ke sini. Midwife yang ngirim.

Midwife yang nemanin lebih gentle dan understanding. "It is wrong to assume that labour or not is depend on the strength of the pain," katanya ketika sendiri. "Everyone has a different pain level, as well as each pregnancy. Don't worry, "imbuhnya, ketika Umi bilang merasa nggak enak hati sudah menghabiskan waktu MAU.

Malam itu, harus nginap di ward 34. Just to be on the safe side. Padahal kontraksi dah hilang pas tengah malam itu. As expected, boleh pulang. Namun harus tetap balik untuk appointment rutin pada Selasa pekan setelahnya.

Yah gitu. Putusan dokter, sudah pekan 37 + 2, bayi masih jumpalitan.

"I am admitted you to ward 34 now. We are going to try to turn the baby and break the water."

Now? Waks.

Arik ada appointment eye test jam 2. Belum lagi, harus beberes rumah dulu lah, sebelum ke RS.

"May I come tomorrow, please?"

As long as antara jam 9 - 1.30....

Ya udah. Karena anak-anak Selasanya sudah sangat capek. Berangkat dari rumah jam 9 lewat: Abi dan dua bujang jalan kaki *pengiritan ongkos* Umi dan Wafa naik bus pakai weekly buspas. Appointment Umi jam 10 pagi, baru selesai jam 12. Piknik di Leazes Park, lalu main di playground, sambil nunggu eye test Arik. Mestinya jam 2 pm, namun baru diperiksan lewat 2.30. Dah gitu, masih dikasih eyedrops, dan nunggu sampai eyedrops berfungsi. Sejam kemudian baru diperiksa lagi kaca mata yang sesuai untuk Arik. Selesai-selsai dah jam 4.30 pm. Klinik-klinik hampir bubar.

In total hampir 8 jam anak-anak di luar rumah. Muhammad juga agak batuk.

Rabu itu  Umi berangkat sendiri ke RVI.

Mak gendut, ngegeret lugage, naik bus. Karena, katanya, be ready at least for a week stay in hospital. Waduh.

Rabu belum banyak yang terjadi, kecuali kedatangan sekejab dokter yang menjelaskan prosedur yang mungkin dilakukan. Kamis hanya cek rutin. Sarah, our health visitor berkunjung (as a friend, bukan sebagai medical people). Tinggal di RVI hampir sejam. Ngobrol banyak. Anak-anak datang juga dan tinggal sampai sore.

Dengan dokter diskusi timescale prosedur esoknya. Ke delivery room mungkin jam 9 -10. Bayi diputar, ketuban dipecah. Tunggu 3 jam untuk kontraksi datang normal. Jika tak mungkin memecahkan ketuban, pakai tablet yang bekerjanya 6 jam, at the most 2 tablet. Jika 2 tablet tidak juga bisa menolong dilation, maka caesarean section option terakhir. Jika tablet bekerja, lanjutkan nunggu 3 jam, jika tidak induksi. Jika ada kontraksi, maka 1 jam 1 cm. Kira-kira harus memikirkan childcare sejak Jumat sampai Sabtu siang. Gitu.

Anak-anak akan diantar Abi ke Tante Nur Jumat pagi, siap-siap untuk menginap.

"Today," Konsultan sangat yakin, "you will have your baby."

Betulkah?

"Mereka banyak yang nggak percaya sama Tuhan,"tambah Abi ketika Umi bilang, bisa saja kan bilang 'God willing'....Abi masih belum bisa liat jokenya.

Baru dibawa ke delivery room setelah jam 11 lewat. Mana kerongkongan dah kering dan lapar. Disuruh puasa sejak midnight.

Jam 12 lewat barulah masuk 6 orang. 2 midwife, Alison dan siapa gitu. Dokter kandungan dan 3 junior dokter yang sedang belajar.

Dokter akan memutar bayi. Ketika dia periksa....

Suprise-surprise!!!

Kepala pas di bawah !!

"This is magic! i don't have to touch  mummy's tummy. Just do like this." Dia ketawa-ketawa, meletakkan tangannya beberapa senti di atas perut.

Junior dokter bergantian memeriksa. Iya, betul, kepala di bawah. Supaya makin yakin, pakai scan. Betul kok, kepala di bawah.

"Tell Jason, this is the quickest ECV ever in history,"teriaknya ke arah pintu. Di luar terdengar suara konsultan lelaki yang tadi menemui ke ward 34.

Oke, masuk next stage, pecahkan ketuban.

Sekarang tinggal dokter dan dua midwife.

Hm, masih satu senti. strecth dikit ya cervicnya. Kepala bayi mulai wiggling, katanya. Midwife diminta memegang fundus supaya kepala bayi nggak gerak-gerak....

Yaaah, semenit kemudian, bayi memutuskan, he had enough of this poking around. Dia memindahkan kepalanya ke kiri.

Plan aborted. Ketuban tidak jadi dipecah. Bikin plan baru. Diskusi dulu sama konsultan, tapi.

Kita bengong sejaman di ruang delivery. Sementara, sholat Jumat sebentar lagi.

Dokter kembali. Plan terbaru? Disuruh datang Jumat depan untuk prosedur yang sama. sekarang boleh pulang.

Okeeee.

Abi ke mesjid, Umi nunggu di reception area.

Teman-teman Ibu Indonesia berkunjung Jumat sorenya. Ketawa-ketawa mendengar kisah bolak-balik ini.

Sabtu, habis sholat Isya, mau bobo, kok ada mucus. Show itu mucusy discharge with a tinge of red or brown colour. Kalau ini, yellow or brown? Aduh, mana lampu nggak konsisten lagi. Lampu di toilet bilang, brown. Lampu di living room bilang yellow.

Ya sudah telpon MAU. Jam 9.30.

"Ada kontraksi nggak?"tanya midwife.

Ada sih, tapi nggak sesakit dua bujang.

"Oke, Maimon, we are waiting for you here."

Anak-anak dah tidur. Gimana dong?

"Can I wait for another hour to make sure about the contraction?" Mengulur-ulur waktu lah. kalo bisa nggak usah datang saja. Udah malam, lagian juga baru kemarin balik dari RVI.

"No, we are waiting for you here, NOW."

Yaa, deh.

Allah menakdirkan pasangan suami-istri teman Malaysia baru saja selesai berkunjung. Mereka masih dalam mobil, menuju rumahnya. Disepakati mereka akan menginap di rumah, menunggui anak-anak.

Yes, according to the monitor, you do have contraction. And it is every 3 or 4 minutes. Off you go to delivery suite. Hari masih beberapa menit menuju Minggu.

Pukul dua pagi Dokter Elaine datang. Dari luar sudah terdengar suara dia. Ini dokter di ward 34 lalu.

Oh dear, masih 1 cm dilation. We are not in labour. ya sudah, bobo saja lah dulu. Panggil kami kalau kontraksi makin menyakitkan.

Nyengir pasrah.

Jam 8 pagi, Abi balik ke rumah. Dokter Jason mau memuter bayi Senin. Dokter yang meriksa pada Jumat siang tidak sepakat. Karena, tanpa diputar, kepala bayi bisa ke bawah sendiri, namun juga bisa berubah dalam hitungan menit. Dokter Miss E Michael yang konsultan di ward 34 juga kurang sepakat dengan Dokter Jason. Setiap argumen dua dokter perempuan ini dipatahkan Dokter Jason dengan, "I will do it tomorrow. I am in tomorrow. It should be done tomorrow."

Umi dipindah kembali ke ward 34.

"Hello again Maimon." sapa Wendy, midwife yang beberapa hari lalu ngurusin. Teman yang seruangan geleng-geleng. "The baby still hasn't made his mind, has he?"

Tempat tidur masih yang dua hari lalu, bay 2. So what next?

Nunggu deh. Again, jam 11 siang itu, Dokter Jason berkunjung.

"I will turn the baby tomorrow and break the water." katanya dengan keyakinan yang sama seperti hari Jumat lalu.

"What if the cervic still 1 cm dilation?"

"I will do the turning and break the water." Ada penekanan 'I' yang kentara. "You will go back and forth like this if we don't do this."

Iya sih. Third time already.

Puasa lagi sejak midnight. Jam 9 pagi, Wendy datang, nanyain masih puasa kan? Orang di delivery suite, ingin kepastian. Iya, masih. Good.

Jam 10, Wendy bilang, prosedurnya baru akan dilakukan 'toward lunch time'.

Eh, boleh minum dikit, kalau gitu? Dikit saja.

Wendy akan nanya. Dokter semua masih di ruang operasi.

Abi masih tinggal di rumah, karena belum jelas juga jam berapanya.

Jam 11 kurang, Wendy bilang, orang dari delivery suite bilang, Maimon boleh makan dan minum.  Kita pandang-pandangan. Bisa jadi, prosedurnya ditunda dong? Mungkin.

Ya sudah, makanlah sereal yang ada. Belum selesai sarapan tertundanya, Dokter Jason datang.

"Delivery Ward is extremely busy at the moment. It is quite dangerous to do the procedure now, because there is not enough midwife to observe the procedure closely. I can stay longer. But we can also do it on Friday."

Oke.

"You can go home, or you can stay here until Friday."

"What is your profesional judgment?"

"I think you can go home."

Fine, home I went.

Mak-mak makin gendut, narik lugage, nyandang backpack :-)) Nunggu bus. What a sight.

Ada banyak curious glance sepanjang jalan. Sebulan lalu saja, setiap ngobrol sama orang, mesti ditanya, when are you due? Karena Umi sudah huuuuge, tapi masih ngider. Cemas, kali, kalo lahiran di tengah jalan. He he he.

Muhammad muntah pagi itu. Kasihan kalau digeret2 jemput Umi.

Senin siang sampe malam, banyak istirahat. Tinggal di RS artinya all night interupted sleep. Namanya juga RS lah.

Selasa nambah stok masakan jadi yang dimasukkan ke frozen.

Sekarang Rabu....

Counting down to Friday....esok Kamis....dan ....there we go again. Coming Friday, back to delivery suite.

"What a day you must have," isi SMS Sarah.

Yes, what a day....what a waiting time.

Allah menginginkan penantian yang lebih khusyu menuju masa jihad ini.

Sudah khusyukah Umi?

Posting Komentar