Kamis, 02 Juni 2005

Othman( Pemuda Hebron): Kampus dan Penjara

Othman: Kampus dan Penjara*


(tulisan untuk majalah Annida)


 


Tuturnya lembut. Gurat wajahnya menampakkan usia lebih tua dari umur yang sesungguhnya. Keras kehidupan di bawah pendudukan Israel membayang pada sorot matanya. Kalimat yang menderas kemudian menunjukkan keluasan pengetahuannya.


Othman, mahasiswa program doktor Institut Al Maktoum, Universitas Abertay, Dundee, Scotland asal Dahriya, Hebron memaparkan lebih lima kali penahanannya oleh Israel pada Annida.


 


            “Pemuda Palestina akan malu jika tidak pernah ditangkap tentara Israel,”tuturnya sambil tersenyum ketika Nida menanyakan perasaannya saat ditangkap tentara Israel. “Artinya dia tidak melakukan apa-apa.”  Othman, setelah lama Nida mengorek-ngorek, mau menceritakan penangkapan dirinya sampai 5 kali.


 


Siang itu, dia sedang berjalan pulang dari kampusnya, Bir Zeit University Jerusalem. Patroli Israel menyetop setiap orang yang lewat. Tangan mereka menggenggam daftar nama. Ketika Othman menunjukkan identitas diri, dia ditahan.


 


Satu sore, Othman dan keluarga menikmati kedatangan Maghrib. Tentara Israel datang dan menggelandang Othman pergi. Kembali dia meringkuk di dalam tahanan. Kejadian hampir serupa terulang beberapa kali.


 


Kesalahannya?


 


“Orang Palestina tidak harus punya kesalahan untuk ditangkap. Jika Israel mau menangkap, mereka tangkap. Mereka pun tidak perlu punya bukti apa-apa. Mereka bisa memasukkan seseorang ke penjara tanpa pengadilan selama enam bulan. Jika mereka masih mau, jangka enam bulan bisa ditambah terus sampai lima tahun.”


 


Wajahnya mengeras. “Saya punya beberapa teman. Kami tinggal satu desa. Saya kenal mereka sejak kecil. Pada waktu mereka berusia 18 atau16 tahun, mereka ditangkap Israel. Mereka ditahan sampai lima tahun. Setelah lima tahun, mereka dibebaskan. Ketika salah satu di antara mereka sampai di pos pengecekan, dia ditangkap lagi. Sedang yang satu lagi, sempat tinggal sehari dengan keluarganya. Keesokannya, dia dijemput tentara Israel lagi.  Keduanya sampai saat ini masih di dalam penjara. Sudah 13 tahun.”


 


Othman pun begitu. Israel tidak memiliki bukti apa-apa tentang ‘kesalahannya’. Tapi, dia lebih beruntung. Penahanannya hanya berkisar satu pekan, atau tiga hari, bahkan pernah hanya 10 jam.


 


Ketika ditanya bagaimana proses interogasi di penjara Israel, Othman tersenyum. “Seperti yang lain. Dipukul, disiksa.” Telah menjadi pengetahuan umum bahwa Israel mempraktekkan beragam siksaan untuk mengorek informasi dari tahanan. Siksaan paling ringan, seperti yang baru saja dialami ribuan pemuda Jenin, mereka dipaksa melucuti pakaian mereka, dan didudukkan di tengah lapangan selama tiga hari. Tiga hari; pagi, siang dan malam, ribuan pemuda itu dibiarkan tanpa fasilitas apa-apa, setengah telanjang. Siksaan yang lain seperti sudutan rokok ke badan hingga kulit melepuh, setruman listrik, hingga pelaparan dan pengisolasian.


 


Para lelaki yang disiksa seperti ini, kadang kala, mengalami trauma dan pada beberapa kasus, balas menyiksa istri dan anak mereka di rumah.


 


“Pukulan mereka sakit ya?”


 


Othman tertawa tanpa suara. Dia tidak menjawab pertanyaan Nida. Ini tawa yang sama ketika Nida menanyakan kenapa dia belum menikah juga.


 


Ruang komputer hening. Mahasiswa Malaysia yang dari tadi menemani Nida beranjak keluar. Seorang mahasiswa Scottish melintas. Othman menekuk-nekuk jari tangannya.


 


“Bagaimana penjara di sana? Parah ya?”


 


Othman menggeser duduknya. “Tidak. Alhamdulillah. Penjara menjadi wadah pendidikan.” Wajahnya serius. “Proses belajar tidak berhenti. Penjara menjadi kampus alternatif.”


 


Dua teman Othman yang sempat menghirup udara bebas (walau hanya hitungan jam) menampakkan bekas nyata tempaan ‘kampus penjara’. “Mereka sangat berbeda. Mereka masuk tidak tahu apa-apa. Sekarang...?” Othman membuka dua tangannya.


 


Saat Nida mendesak siapa mereka sekarang, Othman hanya tersenyum. Nida menyebutkan Hamas, tapi Othman cuma tersenyum. Buru-buru, seakan ingat sesuatu, Othman meminta Nida menyembunyikan nama dua temannya.


 


Di dalam penjara, cerita Othman, terbentuk sistem. Di sana ada pembagian kerja, ada kuliah, diskusi, ceramah dan shalat bersama. Penghuni penjara meciptakan masyarakat kecil. Ada bagian dapur, tahanan yang bertanggung jawab untuk makanan. Ada bagian kebersihan yang menjaga kebersihan sampai ke ruang toilet. Ada bagian pendidikan, yang merancang program pembinaan tahanan.


 


Setiap pagi, urai Othman, tahanan mendengarkan ceramah agama. Selain itu, secara berkala tersedia ajang diskusi. “Di penjara kita tinggal bersama-sama. Jadi, pendidikan itu intens,” paparnya. Tokoh Hamas menjadi pendidik penting di dalam penjara.


 


Othman datang ke Inggris pada 1999. Dia mendapatkan beasiswa dari ISRA untuk melanjutkan sekolah di Universitas Abertay, Scotland. Othman meneliti periode Islam pertama di Jerusalem, atau saat itu masih bernama Aelia Capitolina. Hasil penelitian Othman yang penting ialah pemastian rute perjalanan Kalifah Umar dari Medina ke Jerusalem.


 


Orientalis berpendapat dari Medina, Umar ke Jabiya, lalu ke Jerusalem. Jabiya merupakan kota di daerah utara Jerusalem. Jalan berputar ini diambil Umar, menurut Orientalis, karena Umar ingin mengatur pembagian rampasan perang. Ini tentu saja untuk menunjukkan motivasi perang Muslim bukan agama, namun  materi.


 


Othman mendapatkan sepercik informasi dari ahli sejarah terdahulu bahwa dalam surat Umar pada Abu Ubaida, pemimpin tentara Muslim, Umar memerintahkan tentara Muslim untuk meninggalkan semua rampasan perang sampai Jerusalem bisa ditundukkan. Penemuan ini menolak kesimpulan umum orientalis.


 


Mengusik keaktifannya dalam intifadhah, Othman ikut melempar batu sejak demonstrasi pertama, Desember 1987. Saat itu dia baru saja menapaki kehidupan sebagai mahasiswa tahun pertama Universitas Bir Zeit.


 


“Tidak ada yang mengomando masyarakat. Demonstrasi pertama itu spontan saja. Nama Hamas muncul 5 hari setelah insiden pertama. Pamplet pertama Hamas saat itu ditulis langsung oleh Shaikh Ahmad Yasin. Isi pamplet mengajak Muslim Palestina untuk terus berjuang. PLO mulai memasang pamplet dua pekan setelahnya. Tahun 1989, Israel menangkap Shaikh Ahmad Yasin.” Jari Othman menggores meja, menuliskan tahun dan tanggal.


 


Intifadhah terjadi tiap hari. Ini karena sejak ledakan intifadhah pertama, Israel mengirimkan pasukan mereka ke Jalur Gaza dan Tepi Barat. Sepanjang jalan, apalagi jalan utama, patroli Israel memenuhi jalan. Mereka melakukan razia atau sekedar meneror penduduk.


 


Bersama teman-temannya, Othman menyiapkan batu di dalam tas. Bertiga, berempat atau lebih, mereka bergerombol pulang dari kampus. Jika di jalan mereka mendapati tentara Israel, mereka menghujani tentara itu dengan batu.


 


Tentu saja lemparan batu itu dibalas tembakan senjata. Paling ringan, tentara Israel menembakkan peluru karet. “Kami harus berhitung jarak dengan Israel. Jika terlalu dekat, mereka memukul dengan popor senjatanya. Jika terlalu jauh, lemparan batu tidak kena sasaran. Jarak itu juga harus diperhitungkan dengan kemampuan lari dari kejaran Israel.” Bibir itu agak bergetar.


 


Semua lapisan penduduk Palestina ambil bagian dalam intifadhah. “Anak kecil, ibu tua, semua ikut. Intifadhah mendidik bangsa Palestina. Bangsa Palestina makin bersemangat membebaskan tanah dari cengkeraman Israel.” Kali ini wajah itu tersenyum lebar. Ketika intifadhah meletus, tidak ada yang memperkirakan itu berlangsung lebih dari sepekan. Sampai sekarang, ternyata perjuangan itu tidak padam juga.


 


Proses belajar Othman terganggu karena kampus ditutup Israel tidak lama sejak Intifadhah dimulai. “Mereka tahu, kampus awal bangkitnya intifadhah.” Othman memaparkan aktivitas mahasiswa. Di kampus banyak diadakan kajian Islam. Gairah perjuangan menyebar di kalangan terdidik dan melahirkan konsep perjuangan di berbagai bidang.


 


Baru pada 1993 kampus dibuka kembali.


 


Dan bayi Kurang Dua Tahun pun Membentak


 


            Denyut intifadhah begitu lekat dalam aliran darah bangsa Palestina, bahkan  sampai ke menguasai hati seorang anak usia 2 tahun. Saudara lelaki Othman, Muhammad memiliki 6 anak berusia paling besar 7 tahun. Dini hari satu malam, sepuluh hari sebelum Othman berangkat ke Inggris, Israel memaksa masuk ke rumah Muhammad.


 


            Muhammad ditangkap lagi. Kesalahan nyata Muhammad, dia giat mengumpulkan zakat dan menyalurkannya pada yang berhak. Dulu, Muhammad juga dijebloskan ke dalam penjara, tanpa pengadilan. Selama enam bulan Muhammad meringkuk di dalam tahanan.


 


Rentang waktu tersebut, istri Muhammad berjuang menghidupi keluarga besar namun berumur bawah lima tahunnya. Alhamdulillah, keluarga Othman yang lain masih memiliki sebidang tanah kecil yang menghasilkan buah dan bahan makanan.


 


            Ketika tentara Israel memerintahkan Muhammad mengikuti mereka, bayi terkecilnya, Umar, membentak tentara tersebut.


 


            “Insharif!” pekik Umar. Kata yang dipakai Umar sangat keras, jika diterjemahkan, ‘Pergi kau. Saya tidak mau melihat wajah busukmu’.


 


            Makian seperti itu dan datangnya dari anak sekecil itu membuat tentara Israel shock.


 


            “Keadaan sekarang memburuk (Pembunuhan dan penghancuran kamp pengungsi di Jenin, Ramallah dsb; red). Mereka (Israel) masuk dan hendak membunuh semua orang. Mereka sudah hilang akal. Mereka tidak tahu harus berbuat apa lagi. Mereka ketakutan hingga mereka membabi buta seperti itu,”jelasnya.


 


Ratusan rumah rata dengan tanah. Ratusan warga Palestina menemui ajal dalam waktu 2 pekan saja. Salah satunya Huda, bayi usia 2 tahun. Di kamp pengungsian, air susah, makanan menipis dan listrik lebih sering mati. Baru saja pengepungan gereja Betlehem usai, namun sebagian penduduk Palestina dipaksa meninggalkan tanah mereka dan menetap di Cyprus. Sebagian lagi dikirim ke penjara di Tepi Barat.


 


Ini salah satu akal licik Israel. Seperti kejadian di Ramallah kemarin, ada pihak yang membocorkan di penjara mana pejuang Hamas ditahan. Israel datang dan memborbardir mereka. Kemungkinan besar, tahanan yang dikirim ke Tepi Barat akan mengalami nasib yang sama. Hanya menunggu waktu saja....


 


            Ketika ditanya bagaimana Othman melihat masa depan, dia menggeleng. “Bangsa Palestina tidak akan lupa. Bagaimana mereka lupa akan kekejaman Israel jika setiap mereka merasakan sakitnya? Saya punya paman. Paman saya telah hilang 36 tahun lamanya. Di mana dia? Kami yakin dia telah dibunuh Israel.” Othman sejenak tercenung.


 


“Tidak ada pilihan selain mengusir Israel dari tanah Palestina dengan senjata. Sejarah membuktikan, perdamaian dengan Yahudi tidak mungkin ada. Lihat apa yang dihasilkan Yasser Arafat? Tidak ada. Dan kami akan terus berjuang sampai akhir.” Sorot matanya kukuh seperti karang. Sesaat Nida lupa kalau Othman cacat sedari kecil. Kakinya pincang dan dia harus berjalan dengan tongkat.

Posting Komentar