Senin, 06 Juni 2005

bocoran sambungan Rahasia Dua Hati (Bukan Jalan Bertabur Mawar)

Aku membawa belanjaan ke belakang. Test kit ke kamar mandi, sabun dan odol ke dalam rak, pembalut ke dalam laci. Kantongnya kulipat kecil dan kumasukkan ke plastik holder.


Sambil jalan ke ruang tengah, aku membuka jilbab dan kaos kaki. Menggantung jilbab di balik pintu dan menggumpalkan kaos kaki dan memasukkan ke sepatu.


Dulu, aku tidak serapi ini. Masuk rumah, jilbab kulempar ke sofa. Kaos kaki kutendang ke sudut. Kalau winter, jaket, dan sarung tangan menambah ceceran kain-kain. Sejak hidup bersama Harry, aku belajar rapi.


Dia tidak pernah protes sih. Hanya saja, saat aku duduk menikmati segelas air hangat sehabis jalan pagi, dia tanpa bicara atau melihat padaku mengambili pakaian itu satu per satu dan meletakkan ke tempat yang sebenarnya.


“Jangan, Har. Biar aku rapikan nanti.” Lagian, aku mau istirahat dulu. Masih capek.


“Tidak apa, Baby. Minum saja dulu.” Senyum itu tidak ada berkesan menuduh atau berat. Masih senyum mesra.


Bagaimana aku akan tega?


Aku meloncat dari duduk dan merebut barang-barang itu dari tangannya.


“Bikin malu aja.” Aku misuh-misuh.


“Aku mau beramal, kok dibilang bikin malu?” Harry senyum-senyum penuh arti.


“Yee, beramal di situ, malunya di sini.” Pantas, beberapa kali, aku meninggalkan barang-barang seperti biasa, esoknya sudah tidak di sana.

Posting Komentar