Selasa, 12 Juni 2007

Strange Craving....anyone?

Hamil, bagi sebagian calon ibu atau sudah jadi ibu sebelumnya, penuh dengan aneka peristiwa. Perubahan hormon dalam tubuh, tumbuhnya janin yang makin menyempitkan ruang makan dan bernafas, sampai pada segala crampy di berbagai tempat.

Satu hal yang sering dikaitkan dengan ibu hamil ialah ngidam. Menginginkan sesuatu. Apakah makanan atau apa. Kilah Ibu hamil sangat jitu, jika keinginan memakan satu jenis makanan tak terpenuhi, nanti anaknya iler.

Hi hi hi, setiap anak yang tumbuh gigi mesti iler. Tinggal ilernya banyak atau sedikit. Dan setiap bayi mesti melalui proses tumbuh gigi. Jadi, like it or not, ngidam or not, iler juga. Ngasal yak alasannya?

Saya sangat tidak percaya dengan hubungan antara ngidam yang tidak tercapai dengan anak iler. Logikanya ya yang di atas tadi.

Kenyatannya, bisa dibilang, apa saja yang saya ingini ketika hamil anak pertama bisa didapat. Name it. Bakso, sate, gado-gado Mak di Utan Kayu dsb. Suami juga rela berjalan keluar kompleks Cibiru yang jauuh itu, untuk membeli bakso ke Jatinangor. Pas pulang, sudah agak dingin, saya malah ogah makannya. Keterlaluan ya? PAdahal suami juga tidak doyan makan bakso dan sejenisnya.

Arik? Tetap saja jadi bayi iler, hi hi, semasa gigi tumbuh.

Hamil Muhammad di negeri orang, masak pun belum pula terampil (emangnya sekarang udah, gitu?), jelas banyaaak yang tidak terpenuhi. Mulai dari kangen teh botol, sambel Ikonyo, batagor Ikopin, gado-gado Mak Utan Kayu, daaaan sebagainya. Nggak ada yang terpenuhi.

dan Muhammad juga ileran.

Juga Wafa.

Ngidam juga bukan bawaan bayi. Lha, bayinya juga belum punya feeling mau apa, jeee. di bawah usia 6 bulan, bayi masih tumbuh, belum 'matang' saraf-sarafnya. Bagaimana mungkin sudah bisa 'berbisik' sama ibunya meminta sesuatu?

Namun, saya percaya, hamil dengan segala perubahan hormon mempengaruhi 'keinginan' tubuh akan nutrient tertentu. Ada yang tiba-tiba ingin makan yang segar-segar, nggak mau pakai santan. Ini mungkin karena situasi perut yang asam hingga tidak nyaman dengan makanan spicy.

Ada yang hanya bisa makan nasi, telur ceplok, dan kecap tok. Segala bau aneh tertolak.

Memang, indera hidung sangat tajam awal-awal hamil. Bau aneh sedikit, isi perut sudah meliuk-liuk.

Di UK, craving termasuk yang banyak dibahas ibu-ibu hamil. Rata-rata cravingnya sejenis coklat, es krim, ngemut cheese (semua bagus sebagai sumber kalsium), sampai sejenis buah tertentu.

Pengalaman pribadi, saya memiliki craving yang tak bisa ditahan.

Makan beras.

Hi hi hi.

Hamil Arik, tidak ada yang jadi kontrol. Hampir setiap 10 menit, saya mengunyah segenggam beras.

Berderuk-deruk. Crunchy and yummy. Hm.

Hamil Muhammad, karena masih beli beras dragon thai fragrance rice (yang broken), ngemut beras sama rutinnya dengan ketika hamil Arik.

Hamil Wafa, awalnya bisa ditahan-tahan. Setiap lewat karung beras,....hm,....iya? Enggak? Iya? Enggak? Ah, enggak aja deh.

Soalnya, makan beras, kadang ada efek samping. Sariawan, hue he he.

Namun, begitu segenggam beras masuk mulut, waks, tak bisa pakai logika lagi. Lagi. Lagi. Lagi. Lagi.

Hamil yang sekarang, sampai genap 6 bulan saya cuek dengan beras.

Satu hari, ada keinginan iseng. Eh, beras basmati ini kayak apa sih kalau dikunyah?

Tolooong, ternyata ueenaaak juga.

Pasrah. Kunyah-kunyah beras menjadi rutinitas.

Berusaha tidak separah yang sudah-sudah. Paling makan berasnya habis makan. Kayak desertnya gitu. Belum afdol makannya kalau tidak diakhiri dengan sekunyah genggam beras.

Makan beras, sekarang, tidak tiap 10 menit. Paling pagi, habis minum teh, iseng mau ngapaian, makan beras. Trus habis sarapan, agak beberapa genggam. Dan kapan tiba-tiba ada keinginan mendengar crunch crunch saja.

Beratnya pas kerja, lunch di sekolah. Adddduh, mau beraaaaas. Agak segenggam saja. Mau beraaas. Mulutnya rasanya udah nggak tahan pengen menghasilkan suara crunch crunch itu.

(Mau bawa beras masih menimbang 'imej' diri. Ntar dikira sableng)

Strange craving, anyone?

Posting Komentar