Minggu, 24 Juli 2005

Muhammad sang Heroik


Muhammad ( 4 tahun jurang 2 bulan) mempunyai jiwa heroik yang tinggi. Dia siap membela orang yang dicintainya, dengan harga apapun. Jika Arik kena marah, dia akan loyal pada abangnya dan bersedia menemani abangnya yang kena 'grounded'. Dia juga siap dengan logika pembelaan yang kadang lucu.


Satu pagi saya memecahkan gelas. Saat saya kerja (gantian dengan suami.) dia cerita pada abinya.


"Bi, Umi pecahkan gelas."


"Oh iya?"


"Iya. But it's okay Abi. Umi sudah big." (dengan nada suara bijaknya).


Saya ketawa habis pas suami lapor.


Mungkin karena beberapa kali mendengar retorika kita, "Bang, adik Wafa masih small, belum mengerti." Tapi apa koneksinya dengan 'sudah big'?


Pergi belanja dengan Muhammad akan menjadi pengalaman yang menyenangkan. Dia akan menolong menjaga Wafa. Mengalihkan perhatian Wafa yang mulai bosan hingga Wafa tak jadi menangis. Dia juga (meniru kebiasaan saya) mengingatkan apakah barang yang saya beli mahal apa tidak.


"Ini buy one get one free, ya Mi?"


Ha ha ha.


Karena, memang, jika belanja di supermarket, mostly yang kita cari yang buy one get one free. Apakah itu sereal, kue, atau bread. Jika saya tidak jadi beli, biasanya dia akan komentar, "Mahal ya Mi?"


 Kalau ternyata bukan karena mahal, saya biasanya menjelaskan bahwa makanan itu tidak halal, karena bla bla. "Allah nggak suka kita makan yang haram, Muhammad."


Komentarnya? "Iya. Muhammad juga nggak suka." As if, his agreement is needed


Karena selalu mendengar, 'Anak-anak, listen, ini tentang Muslim,' dia sering lapor kalau dia melihat tivi tentang Muslim sama abinya. (Berita London bombing). Kadang keluar komentar, "Abang Amad kasihan ama Muslim."


May Allah bless his soul...


 

Posting Komentar