Jumat, 28 April 2006

Jadual Muhammad hari ini (katanya)

Bangun


Sholat Subuh


Sarapan


Tulis cerita di MP


Sekolah


Sholat Jum'at sama Abi dan Wafa


Bobo siang sambil baca buku


Bangun dan ngaji


Main internet cbebies


Makan malam


Baca buku lagi


Bobo sama Umi

muhammad's story (written by Muhammad, spelling helped by Abang)

one day the three bear live in together in the wood. And a noughty goldilock come and eat a porridge. Then she sit on baby bear chair, and she sleep baby bear bed. the end.

Selasa, 18 April 2006

Changiiii

wusss,


sampe di changi Singapur


ngobrol asyik sama Neng Nida :-))


doaiiiin, biar semua lancar niii


Mau boarding dulu :-))


(tanda kecanduan kah? )

Selasa, 11 April 2006

Gadis Terjorok....Ugh

Malam terakhir, kami disiksa lagi.


At one point, ketika disuruh telentang, lalu kaki diangkat seperti mengayuh sepeda. Saya asli nolak.


Aurat, bo!!


Dengan cuek kayak bebek duduk dan keluar barisan. Ofcourse, semua teriak, membentak. Kenapa keluar dsb.


"Sakit." Jawab pendek sebel. Sakit hati.


Ya udah, (quite surprising kalo dipikir-pikir sekarang....Hagi, Mak Tian, mau nanya dong, dulu kenapa ya saya bisa 'lolos' mulu??) duduk santai bersama tim P3K.


Lalu, sampai pada adegan, kita dibawa satu-satu ke tengah kebun teh. Mata udah ditutup. Trsu ditinggal menjelepok di antara dahan-ranting teh. Saya ngerasa, 2 Teteh sengaja milih saya untuk mengantar saya ke kebun teh. Kita membawa lilin di tangan.


Asli, sumpee, pikiran saya saat itu hanya ke satu hal. ULAAAR!!


Ulat kebun teh yang item dan mematikan. Sungguh, sama ular, walau nggak sampe phobia, saya punya banyak pengalaman 'dahsyat'. So, bermenit-menit...hanya satu saja yang dalam pikiran...


ULAAAAR.


Akhirnya, saya nggak tahan. Berdiri dan membuka mata, dan mencari jalan keluar.


"KENAPA lagi MAIMON!!"


Biasa deh, disambut 'mesra' tim tatib. he he.


"Sakit perut."


Emang bener, mules mikirin uler.


Setelah dibetein dan disebelin, saya boleh duduk bersama 'sahabat', tim P3K. Teh Wina dkk. Ada Nigar juga.


Eh, siapa tu, yang kayak bule, banyak didemenin Maba cewek? Nah, jadi banyak ngobrol, ketawa-ketiwi sama grup ini.


(cieee,....)


Sampai satu ketika.


"Eh, ini Jurnil kenapa ketawa-ketawa? BUka mata pula. Tutup MATANYA!!!" Teriak melengking.


Yaaa.


Selesailah diskusi asyiiiknya.


Otomatis jadi tidak asyik lagi ngobrolnya. Buta siih.


At one point, saya dibimbing, dimasukkan ke barisan teman-teman, menuju api unggun.


Say sih udah nggak ngeh, gimana-gimananya. Ilang orientasi. Yang jelas, sebagian anak cowok basah, berlumpur. Kena jebur. Api unggun juga setangh jadi. Pokoknya puncak acara itu gagal, maneh.


Sholat Subuh? Emang masih ada yang sholat?


Sholat dah kabur entah ke mana.


KAin sholat di mana, kita di mana.


Saya?


Kayaknya sih sholat, di sekolahan. Seadanya.


Saat sarapan, yang juga seadanya, mau nambah minum. Pakai bekas gelas bekas makan kacang hijau. Seorang panitia yang memang terkenal kecakepannya (bukan bule kesasar itu) nanya,"Kok airnya kotor?" Melirik air butek saya.


"Ini bekas kacang hijau, Kang."


"Iiiii, jorok ih!" Hidung bagus berkerut. Mata menyipit. "Cuci dulu, kenapa kek?"


Tergeragap...


Kotornya di mana? Kan bekas kacang hijaui?


Sang Kakang melengos.


Duh,...rasanya kok ya...jadi gadis terjorok sedunia...


Samar-samar terbau pula bau nggak mandi tiga hari....ketiak asem...kaus kaki busuk....


Hiks.


 

Senin, 10 April 2006

Spring Jemur!!

Weiis,


The first time this year!! Jemur di luar, our backyard.


Sekalian para bocah main mobil-mobilan.


Duh, senengnya....Udah bisa ngejemur di luar.


Nggak di heater mulu :-))


 

Sabtu, 08 April 2006

Pra OJ Jurnalistik 1992, Papandayan (bag 3)

Pra OJ Jurnalistik 1992, Papandayan (bag 3)

Habis Subuh, kami dibariskan, disuruh menunduk. Senior dan Dewa/i menyiapkan sesuatu. Saya tidak tahu apa. Setelah dimaki-maki, maka disuruh memejamkan mata dan membuka mulut.

HOEK!

Cairan yang entah apa, membuat perut saya bergejolak. Sesendok cairan itu tersembur.

Kembali, dibentak.

Sendokan yang kedua, saya memaksa cairan itu masuk ke tenggorokan. The worst drink ever! Katanya sih cairan botowali? Atau, minyak ikan? Entah lah.

Pagi dan siang diisi dengan ceramah. Tidak satupun ceramah senior nyantol di kepala saya. Sungguh :-))

Kami kemudian digiring menuruni Papandayan. Di satu lereng gunung, diadakan acara role playing. Kami, mahasiswa baru, diberi target mendapatkan sekian tanda tangan panitia Opspek dan sekian senior non panitia/dewa-dewi.

Di sini terbuka kemungkinan 'abusing of power'. Segala sexual harrasment dst.

Jelas saya siap-siap dengan ini. Saya hanya minta tangan pada lelaki yang 'aman'; bersedia disuruh apa saja asal tidak nyanyi, tidak joget, tidak sebagainya :-))

I don't know why, tapi, saya biasanya memang tidak disuruh macam-macam :-)) Paling disuruh nyanyi. Saya jawab, "Saya tidak nyanyi." Yaa, disuruh teriak, "Item, kamu ganteng deh." Ah, kalo cuman ngomong gitu aja, sih kecil. He he he.

Segerombolan senior duduk di saung. Ada Hagi dkk. Mereka sepakat memberi saya tanda tangan, jika saya bersedia mereka suruh sesuatu. Rejeki nomplok. Karena, at least ada 10 panitia dan senior.

"Ayo, Maimon, nyanyi."

"Saya tidak bernyanyi." Kalau nyanyi sendiri sih mau.

"Puisi? Bisa puisi?"

Bisa, cuma untuk  kalangan perempuan saja. "Saya tidak berpuisi."

"Jadi, bisa kamu apa?" Hagi dkk agak kesel. Mungkin setengah menyesal, sudah menjanjikan tanda tangan.

"Kalau pidato, gimana?"

"Ya deh. Sana."

Pidato itu tentang jauhnya kita dari Qur'an dan bagaimana seharusnya sebagai Muslim, kita harus kembali membuka Qur'an. Bla bla bla.Dunno, it just happened that way.

Sayangnya, saya kurang sensitif saat itu. Tidak mencoba melihat apakah pidato seperti itu pantas untuk mendapatkan tanda tangan senior.

Selepas itu, satu-satu mereka membubuhkan tanda-tangan.

Saya pun mencari tanda tangan berikutnya, tetap dengan tekad: tidak nyanyi, tidak joget, tidak puisi....


Pondok Salada (part 2: Subuh dengan Item)

Pra OJ Jurnalistik 1992, Papandayan (bagian 2)

Seusai pemeriksaan barang, kami diberi makan nasi bungkus. Setengah basi lagi :(

Gelonya, panitia menyuruh makan lauk dulu, sayur dan lauk, terakhir sambel. Pedas!

Tapi, sesusahnya kami dibiarkan sendiri, istirahat. Sebelum penyiksaan berikutnya. Hihi.

Subhanallah, dua panitia angkatan 91, (teteh cantik yang dua-duanya berjilbab setahun kemudian...Iya, Teh Wina dan sohibnya), mendekati saya.

"Maimon, pusing kan?" Lebih menuduh daripada bertanya.

Saya agak heran.

"Iya, Maimon sakit kan?" tekan sahabat beliau.

Yaa, karena dituduh gitu, ya, saya mengangguk.

"Ayo ikut kami."

Lalu dua-duanya cekikikan, ngajak saya ke tenda P3K. Di situ saya diperlakukan seperti teman baru. Ditawari makanan. Diajak diskusi. Ketika tidur, ditawari sleeping bag.

(Tetap sambil memikirkan teman-teman saya yang ...ternyata tidur di atas lumpur..... Syukur pada Allah. Ada saja kemudahanNYA).

Pagi Subuh, saya bertanya di mana wudhu. Seorang pemuda gondrong bernama Item mengantar ke sungai.

"Jangan liat ya."

"Nggak akan lihat."

Sementara Item menunggu sekitar 2 meter, saya menuruni tepian sungai Pondok Salada yang becek,  menuju sungai. Sulit melihat jalan di depan, karena geremang malam masih bersisa banyak.

Ketika sholat di tenda bersama teman-teman yang mulai terbangun satu-satu, sungguh saya kaget. Alas tenda basah, berlumpur hitam. Baju teman-teman dan jaket mereka sudah berlumpur juga. Wajah mereka kusut, nampak tak tidur semalaman.

"Bagaimana cara mau tidur di sini?"keluh mereka.

Nyes. Sedang saya tidur di tempat kering, berselimutkan sleeping bag yang hangat.

"Basah,,"sungut mereka.

Suhu Pondok Salada bisa drop minus celsius kala malam.

Jeri, karena saya sendiri yang nyaman.

Sholat pagi itu dengan perasaan tak menentu. Hanya bisa ruku. Sujud tak bisa, karena di atas lumpur.

Semoga Allah mengampuni.