Jumat, 24 Februari 2006

Paling Benci, Padahal...Eh, Ternyata...

Saya paling suka pelajaran Fisika dan Matematika. Biologi juga demen, pas kelas dua. Cuman, kalau sudah harus menghapal segala nama latin binatang atau apapun, saya nyerah. Jadi, agak nggak suka Biologi. Tapi, Matematika, dan Fiska? I just loved both lessons so much. Enjoylah dengan segala PR dan ujian.


Namun, sampai ke Kimia....


Ugh. Asli, sebel bin dengki, hi hi hi.


Berusaha cinta....tetep aja mangkel. Sampai ke ubun-ubun...Hingga, kalau sudah datang jam Kimia (kelas 3 SMA nih), saya selalu berusaha cari alasan untuk keluar kelas. Mulai dari rapat Kopsis, latihan PMR, dipanggil untuk mengobati orang membuka ruang kesehatan, sampai yang paling jelas ngibulnya,....melayani pembeli Kopsis. Ha ha ha.


(Note: saya ketua Div. P3K PMR....bertanggungjawab pada runag kesehatan dan tim kesehatan setiap upacara....baca: selama 2 tahun tidak pernah berbaris upacara....adanya duduk di kursi empuk dokter di ruang kesehatan, uhuy...


Saya bendahara Kopsis, dan bagian Humas Bina Remaja...sengaja lah cari tugas.)


Ibu guru Kimia sudah hapal dengan perilaku saya. Beliau masuk, saya berdiri.


"Ya Maimon?"


"Permisi Bu. Ada...." Apakah rapat....atau apa saja yang kebetulan bisa dipake alasan.


Sekali, beliau takjub saya tidak minta ijin. "Nggak keluar hari ini Maimon?"


"Tidak Bu." Jujur, memang tidak ada apa-apa yang bisa jadi alasan. Mau ngibul, nggak mau dosa. Terpaksa diam di dalam kelas.


Teman-teman sekitar pun jadi heran. Sampai salah satu teman dekat, di akhir pelajaran mendekati. "Rajin amat nyatat pelajaran barusan, Mun? Pinjem dong bukunya."


Hua...Saya mah bikin cerpen di buku tulis...bukan nyatet pelajaran.


Eniwei, segitu sebelnya sama Kimia, pas Ebtanas, satu-satunya nilai di bawah 6...apalagi kalau bukan Kimia. but, the truth, saya sendiri tak percaya ketika melihat nilai Kimia saya 5 koma something. Kok masih bisa dapet lima sih? Heran bin ajaib.


(Saya berpendapat itu asli pertolongan Allah. Jika mentok di multiple choice, nggak tau jawabannya apa, saya melakukan 'ijtihad' sendiri. Tutup mata, angkat pena, bertakbir dan menjatuhkan mata pena ke kertas. Mana huruf yang paling dekat, itulah jawaban saya. Really a stupid way to answer any test, but it worked!! Fiuh)


Allah Maha Tahu...Ealah, saya malah menikah dengan dosen Kimia...yang tergila-gila dengan hal satu ini. Sampai, agaknya,...kalau sedang sebel dengan saya...beliau pun mengingat rumus-rumus Kimia. Ha ha ha.


Lebih tragis lagi, ketika di UK, saat kerja sebagai petugas kebersihan di sekolahan, saya malah ditawari jadi asisten Lab Technician.


What? Me? Me? (Tengook kiri kanan)


"Why don't you give the job to mys husband, then?"


Tapi, boss lebih milih saya.


Jadilah, tahun lalu saya apprenticing assiten lab technician. Bikin solution, nyedian mortar practical, rusting experiment etc. Sebagian besar saya suka sih. Karena banyak bicara molaritas, satu-satunya bagian Kimia yang saya suka dan saya kuasai (nyengir)


Ketika tiga pekan lalu, teknisi lab yang saya tolong selama 4 bulan masuk rumahs akit, otomatis telunjuk mengarah ke saya. "Will you able to help?"


O o o.


Kalau cuman disuruh-suruh mah aye kagak takut. Ada Teknisi yang mnegawasi. But, alone? Menghadapi segala zat aneh-aneh itu? Tak tertutup kemungkinan segala carcinogens chemical? Segala toxic fumes? Segala explosive material? Wayaiii


Tapi, bayangan pound lebih menggoda...


Ya, iya deh....


Sudah dua pekan hari-hari saya penuh dengan segala zat kimia...not mention nama-nama yang aneh. Misal wire stirrer? Saya belum ketemu sampai saat ini. Potassium dichromate VI....very toxic!!! Bisa bikin kanker. Clorine gas....toxic!! Suphuric Acid...corrosive...


Suka? Well, ofcourse. Ini chalenge...Bisa menggunakan otak...


At a long last, it down to me, that I am not that hopeless in chemistry. Coba aja, kesadaran ini datang 13 tahun yang lalu....I might not go about finding false activities. I would be happily sat  on my chair, hanging to every word my Chemistry teacher said.


Alas.


 


 

Rabu, 08 Februari 2006

People Love Muhammad....Trus?....Trus?

Karena berita dipenuhi tentang kartun, demo dan seterusnya, tidak heran, anak-anak juga terpengaruh.


"People love my name, Mi. Muhammad this....Muhammad cartoon."


"Yes. Many of my friends named Muhammad."


"In my class too."


"My name is very good."


O o o, here again. Saya sebenarnya sudah penat.


"Well, that's because one day, long time ago, there one wise, friendly, loving, vlever and holy man, named Muhammad."


"Really?" Agak takjub. Heran juga, padahal dia tau, nabi kita Muhammad.


"Yes, about 14 hundreds years ago. He loves children very-very much. Do you want to hear a story about him?"


"Yes. yes!" Tiga-tiganya semangat.


LAlu ceritalah tentang Hasan/Husein yang memanjat kepala beliau SAW saat sujud. Sampai Muslim menjadi sangat kuatir.


Hening. Seperti mereka suka sekali mendengar kasih sayang Rasulullah SAW.


"Trus, Mi?"


Cerita tentang Rasul sholat, kali ini ditumpahi kotoran kepala mulianya. Dan datangnya sambil menangis anak tercintanya.


Hening mereka sungguh membuat bulu kuduk saya berdiri.


"Trus, Mi?"


Cerita tentang Rasulullah dan wanita tua yang setiap hari melempari beliau ketika lewat, dan ketika akhirnya wanita itu masuk Islam.


"Allahu Akbar!" teriakku.


"Allahu Akbar!" Arik dan Muhammad.


"Trus Mi?"
Aduh Umi udah capek....


"Hm, shall we have another one tomorrow?"


"Oke!"


 

Doa Muhammad

Saya membiasakan membaca istighfar bersama para bocah sebelum tidur.


Setelahnya, anak-anak akan membuat doa sendiri.


Dua malam yang lalu, Muhammad berkata setelah ritual semua doa,"I want to say with my words, Mi."


"Oke. Go on."


"Ya ALlah, please, bisa ketemu Mak again. Amiin."


Hati saya nyes. Perbincangan tentang Mak sudah sepekan ini banyak sekali...karena ada keinginan utnuk pulang, namun sedang menyiapkan hati untuk kuat.


Arik dan Wafa mengamini.


"Allah, can protect Muslim di Aceh, Palestin, Pakistan. Amiin."


Maksudnya tentu, selamatkan Muslim....ya Karim.


"Allah, can Muslim di Aceh, Kashmir, Palestine have food. Amiin."
Tentu, supaya tersedia makanan untuk saudara-saudaranya. Amiin ya Rahman ya Rahim.


Sore sebelum tidur, dia berdiri di atas kursi, menggunakan botol sebagai toa. Dia berseru, "There is no food and drink di Palestin, in Aceh, in Kashmir!"


Love him for ever, ya Waduud. Amiin.

Minggu, 05 Februari 2006

If I drink it (boiling water).....

Menemani saya masak adalah salah satu kegiatan yang disukai anak-anak. Mereka bisa berhenti baca buku, atau main  train, jika saya sudah sibuk di dapur. Ada saja pertanyaan mereka. Apa yang sedang saya iris?...Bisa tidak makan onion itu? It is dirty or not?...Boleh tidak makan chickennya (mentah)?...


Saya suka masa-masa ini karena nilai educationalnya tinggi.


Sekali waktu, saya sedang boiling water di kettle. Anak-anak melihat saya sedang masak gulai. Air panas untuk menambah kuah gulai.


"Why do you boil it, Mi?" Arik nanya.


"To kill the germ in the food, so our food will be clean and nice."


Diam dua-duanya.


Muhammad minta minum. Saya campur minum panas dengan dingin.


"Mi," Arik mulai lagi. "If I drink hot water, will it kill the germ in my tummy?"


"No, because it is not hot enough to kill it."


"So, what about the boiling water, then?'


"Well,...." Nyari penjelasan yang tidak sadis. "If you drink boiling water, before it kill the germ, it kill you first."


Dua bocah saling pandang.


"Why?" tanya pemuda yang selalu bertanya 'why'.


"It is very hot, it will burn your tongue." Saya terus memotong bakal sayur. "Remember Muhmmad when you touch setrika? Umi's iron? How was it? Was it not hot? Very hot?"


Muhammad mengangguk.


"Boiling water is hotter." Saya gemetar di dalam hati membayangkan dua pemuda saya meminum air mendidih.


"Oh." Arik berpikir keras. "Well, then I drink hot water saja. Not boiling water."


"Good." Saya melirik Muhammad.


"So, the best option will be wash your hand after everything, therefore the germ will not be able to get in."


"Why?"


Ugh. "Why? Well, do you know, you pick your food with hands?"


"Yes."


"When you eat with your hands, you bring food, as well as germ, if you have any, through your mouth, into your tummy." Umi memperagakan gerakan menyuap, dan menelan.


"So, better clean your hands from germs, so the germs will be wash away, rather than drinking boiling water that can kill you as well."


"Why?"


"When you wash your hands with soap, and hot water, the germ will be slipped away, and follow the water. And your hands clean. Remember the ad?"


"What ad?"


"Yang ini...aaaa....aaaaa." (Umi menirukan iklan germs teriak melolong....karena disabuni)


"Oh ya, I remember." Arik.


"Oke, I will sabun my hands then." Akhirnya Muhammad menerima.


Sejak itu, dia sangat rajin mencuci tangan.


Sehabis megang nappy kotor Wafa, cuci tangan. Habis flush the toilet, cuci tangan. Sebelum dan sesusah makan cuci tangan.


Tadi, sewaktu saya mem-fillet chicken leg dia berlari ke toilet. Dan berkata dengan bangganya, "Mi, I have washed my hand. Can I help you getting your chicken from the plastic bag now?"


Ha ha ha.


 


 


 

Rabu, 01 Februari 2006

Es Ingus?

Ngomongin cuaca di Inggris memang sangat menarik. Wajar, kalau perbincangan yang umum antara dua strangers adalah tentang cuaca. Bahkan, Arik dan Muhammad saja menjadi sangat interested dengan cuaca. Ini karena di UK, cuaca satu hari bisa 4 musim. Bisa badai salju...lalu sunny...tiba-tiba ada udara panas dari laut...jadi mild...trus hujan.


Saya memang perlu memperhatikan cuaca. Apakah malam itu drop dingin nggak. Kalo iya, artinya heater ditambah pake timer. Kalo agak mild, heater dikurangi, supaya tidak boros gas dan juga supaya tidak kegerahan.


Sudah tiga/empat hari udara drop minus jika siang. (Malam apalagi). The worst so far baru Cumbria yang drop sampai -12C. Dengan demikian, Arik dan Muhammad jika ke sekolah lengkap dengan scarf dan hat. Gloves belum urgent, karena sekolah mereka cuman di sudut jalan.


Pergi kerja, saya berbekal hat juga. Dijilbab dan pakai hat. Ngebayanginnya sangat aneh. Tahun lalu saya tidak pernah pakai wooly hat, juga shawl. Sekarang, bisa dua-duanya. Tiga dengan sarung tangan.


Asli, dingin.


Perjalanan ke tempat kerja selalu menjadi menarik. Sepanjang jalan, saya sering menemui genangan air beku. Waaa, kebayangnya danau beku...lalu main skating di atasnya. Asyiiiik.


Noraknya, saya selalu perlu menggeserkan sepatu di atas permukaan air beku yang kecil itu. Lalu, imajinasi melayang ke mana-mana. Di UK, hampir tidak pernah ada genangan air membeku siang hari gitu. Walau winter sekalipun. 


Asyik yang lain, ingus-ingus buangan manusia flu juga membeku. He he he. Jadi kalau nggak sengaja keinjek, nggak perlu 'enegh' karena dia membeku, sodara. Berhubung winter = musim cold dan flu....yang namanya ingus/pleghm, dahak ada di mana-mana. Just every where. So, in this kind of wheather, you can have some rest in paying attention to them...


Nggak perlu terlalu zig-zag jalannya...karena...most ingus membeku seperti es. Bayangin, garis hijau...diameter 1/2 senti...panjang depend on...membeku?...Kadang bulet hijau, he he.


Sekali-kali ada aja sih ingus mentah...yang belum 'matang' meng-esnya...Ya, tinggal loncat.


Jeleknya, kalau udara milder....segala ingus menjadi 'seger' lagi....sama artinya dengan virus berkeliaran di mana-mana....artinya musim jatuh sakit.


I think, worst is...nginjek poo anjing yang kembali 'seger'  setelah membeku.


Normal, poo anjing di sini mostly keras dan item....Kayaknya anjing sini kurang makan fruit dan veg. jadi, sedikit konstipasi. Jeleknya, kalau sudah 'diresapi' es lumer, semua poo jadi lunak. Ugh..


Yuck.


 

Jumat, 27 Januari 2006

Ihsan OYTR Tsunami dinner




Kenangan One Year Tsunami..

Kenangan dari One Year Aceh tsunami Remembrance


 


Dua hari sebelum Sabtu, saya sudah menyiapkan ransel besar. Ransel besar ini dulu dibeli untuk dipakai pergi haji suami, pada 2001. Karena yakin tidak akan terpakai dalam waktu lama, tu ransel disimpan di dalam plastic hitam besar.


Kamis sore sudah memasukkan baju ganti, nappy, wipes and all children essentials. Biasa deh, emak-emak. Kerjaan Ihsan masih bejibun. Nyiapin auction particulars, CD Raihan belum datang, narasi video show belum dibikin, dst. Seperti biasa, rapat dengan panitia lain, onlen, malam bangeet....selesai jam 12.


Teler deh.


Jum’at kembali menonton video Aceh. Karena sudah tiga kali nonton, sudah agak kebal. Sebelumnya, belum nulis, udah banjir air dulu...nggak bisa mikir apa-apa.


Rapat onlen lagi dengan Riri, masalah narasi video show dan auction. Kerja cleaner Jumat sendiri pula...nggak ada temen. Karena cleaner yg dari agency nggak datang. Grr. Ngerjain 7  labs lumayan. My feet were achie.


Seperti malam-malam sebelumnya, pulang kerja langsung duduk di depan kompi. Anak-anak sudah 3 hari nggak keurus. Mereka semua jadi anak Abi. Makan, mandi dst. Dipikir-pikir, sebenarnya sudah tiga hari juga saya nggak pernah makan proper. Sekedar comot sana-sini. Kadang cuman bertahan dengan minum kopi doang, sampai siang. Betul-betul jelek ya.


Narasi videoshow baru selesai jam 10 malam, dilanjutkan dengan diskusi dengan Riri. Kepala udah berdenyut-denyut. Akhirnya, malam itu kerja tuntas.


Sebelum merebahkan badan, menyempatkan diri menambahi perlengkapan yang dibawa anak-anak esok.


 


Sabtu Pagi.


Anak-anak bangun super lincah. Karena hari yang ditunggu-tunggu tiba. Naik train! Tiket kita untuk train jam 10. Jam 9, teman suami janji datang, dan mengantar ke train station. Saya menyiapkan segala kue, minuman, susu, dan bekal untuk pulang-pergi naik train.


Kalau beli minum di jalan, bisa 1 pound sebotol. Belum lagi, teh panas bisa 2 pound. Capucino kesukaan saya,waa, dalam train bisa 2 pound something. Jadi, mending, bawa semua dari rumah.


Mereka sudah mandi, sudah ganti baju, sudah makan. Satu jam nunggu berangkat, kelincahan mereka sungguh-sungguh bikin stress. He he. Karena, saya belum makan, belum nyiapin baju, belum ngeprint narasi dan seterusnya.


Suami keluar ambil uang. Saya sempatkan memanaskan kembali teh yang udah dua kali dingin. Brt, teh dua kali panas via microwave udah nggak yummy lagi. Saya memasukkan sebongkah nasi dan telor ceplok bagian saya yang belum kesentuh ke dalam kotak.


Jam 9 saat teman suami datang, ada lagi yang nelpon. Waaa.


Perjalanan ke London was quite enjoyable. Apart from my anxiety of whether our event would go smoothly or not. Udah dua malam nggak bisa tidur. Mikir banyak. Acara akan oke nggak dst.


Sampai di London jam 13. Arik begitu turun langsung nanya,”Mi, where is platform 9 ¾?”


Ha ha ha. Dia bukan penggemar Harry Potter. Dia penggemar train. Dia suka melihat clip Harry Potter yang bagian steam trainnya. Sisanya nggak tertarik.


Akhirnya kita nyari ke arah samping stasiun. Ada sih. Cuman ya gitu, betul2 ‘bo’ongan’. Kalau di filem, tempat masuk itu antara dua flatform kan? Yang sebetulnya dinding doang. Bukan pembatas dua platform.


Eniwei, selain Arik, udah ada rombongan gadis yang nunggu kesempatan difoto.


Seorang anak bule, seusia Arik teriak,”It won’t open. It is just a wall. Nothing behind it.”


Yes, we do know it, darling.


Keluar Kingcross, kita diskusi apakah akan naik tube atau bus. Naik tube cepat, cuman harus turun tangga. Dengan pushchair, it is awkward. Nggak ada lift. Imagine, kota segede London, stasiun sebesar Kingcoss, nggak ada lift!


 


Akhirnya mutusin naik bus. Lebih murah, pushchair masuk, dan nggak terlalu lama. Hanya 20 menit. Kita nanya 2 teenager pakai jilbab di mana LMC. Mereka janji, nanti memberi tahu jika harus turun. Tapi, mungkin karena mikir yang lain, mereka ngasih tau saat bus hampir jalan lagi. Akhirnya pakai acara teriak dulu sama sopir, minta stop, karena mau turun.


Jam 2 di London Muslim Centre aka East London Mosque.


Allahu Akbar...serasa masuk kampung melayu. Toko buku muslim, toko baju muslimah, burger halal...sepanjang jalan, semuanya bernuansa halal-muslim. Sepanjang jalan yang nampak juga berjilbab dan berjenggot.


Now what?


Pintu masuk di mana?


Akhirnya nelpon Ihsan Chairman dulu. Suami disuruh masuk tempat brother, nanya pintu masuk dari mana.


Alhamdulillah, ketemu panitia lokal. Kita mengikuti beliau ke belakang gedung. Beliau bawa buah dan perlengkapan konsumsi.


Baru ada satu dua panitia lokal, anak PPI London.   Akhirnya, nolong nurunin meja.


Jam 3 semestinya panitia lain sudah datang. Belum banyak yng muncul. Akhirnya keluar dulu beli makan, karena perut udah melilit juga.


Muhammad refused point blankly. Dia tidak mau makan. Terlalu excited dengan teman baru. Lari kian kemari.


Yeni datang saat kita sedang makan. Dia ikut makan sambil mengurusi anak-anak operet.


Setelah makan, sampai menjelang jam 7, kerjaan serabutan. Antara monitor anak operet, ngurusi auction, diskusi narasi dengan Pak Mufi (asli Aceh),  sampai masalah slide yang belum selesai untuk anak operet. Diselingi menghias panggung.


Idenya, Aceh paska tsunami. Perlu kayu, ranting, kain kasa, obat merah dst. Baru ada seplastik ranting dari Wahyu. Dikit amat. Kain kasa hanya ada satu helai. Dicat merah, menyerupai warna darah dan dililit di antara ranting. Seplastik lagi ranting dari Mbak Neng. Akhirnya sekeliling panggung dikasih ranting. Nggak ada kayu...padahal maksudnya, kayu rebah = Aceh masih rebah...He  he he. Mengunakan yang ada ajalah.


 


Riri sibuk wira-wiri. Pak Ali berkutat dengan slide show. Hebat ni Bapak. Pada saat sinusitis beliau sedang kambuh. Tak akan ada yang tahu, kecuali orang-orang yang menangkap bayangan istri beliau nyari apotik dan memberikan obat ke beliau.


Sempat stres karena musik/rekaman percakapan anak2 nggak bisa diputar.


Mbak neng sibuk telepon anak beliau yang lebih paham masalah rekaman ini. Ketika ketemu file yg bener, ternyata percakapan setelah cericit burung juga bermasalah. Keciil sekali. Walau sudah ditolong oleh sound mixer, tetep kurang bagus.


Seadanyalah.


Gladi resik anak-anak bikin stress. Udah gitu, tim nasyid Al Ikhlas juga bermasalah. Ketika latihan, mereka makai musik pengiring. Tanpa musik pengiring, mereka jadi kacau.


Asli, stres. Sama Riri sering akhirnya saling pandang, hopeless.


Korlap entah dimana pula.


 


Jam 7.


Molor satu jam, Ihsan One Year Aceh Tsunami Remembrance dimulai.


Jangan tanya urut-urut acara dan gimana jalannya.


Saya ada di belakang panggung, ngurusi anak-anak.


Berdua Ifa, (Ada Yeni juga tentunya....Mbak Neng dan Adam di ruang suara) mengatur operet.


Sukses?


Kata yang liat, anak-anak aktingnya bagus. Alhamdulillah.


Ketika tim nasyid tampil, saya mengambil boks CD Raihan dan barang-barang auction lainnya. Diseling ganti nappy Wafa. Udah luber. Membasahi tight dan vest dia. Akhirnya jadi ganti baju Wafa. Suami banyak di luar, ngurusi anak-anak. Creche nggak jalan.


 


 Kembali diskusi sama Pak Dono, tentang alur auction. Mana yang duluan dijual dan seterusnya. Pak Satya udah bergabung.


Videoshow...o o o....masalah. Komputer nggak ada koneksi ke layar. Panik lah ya.


Riri udah kalang kabut.


Pak Ali saja yang cool sendiri.


Saya? Jangan ditanya.


Alhamdulillah, waktu kosong diisi Pak Mufi dengan cerita pribadinya.


Karena kurang latihan....narasi ke mana....cerita Pak Mufi lain lagi. Udah nggak sesuai dengan skrip yang saya tulis.


Untungnya, cerita beliau (karena orang Aceh juga) masih dalam alur...walaupun yang diinginkan itu, kalimat pendek2 setiap ½ menit...hingga yang banyak bicara adalah gambar.


Well, mau gimana lagi?


Juga lupa menyampaikan pesan suami. Suami mengingatkan karena gambarnya banyak yang sangat menyeramkan, harus diingatkan penonton akan keseraman itu.


Udah terlupa deh.


Sesudah videoshow, ada slide show Ihsan...


Saya membagikan pensil dan kertas untuk auction.


Auction dipandu Pak Dono dan Pak Satya. Yang satu lucu, yang satu cool. Pas dan bagus.


Peci terjual 60 pound, sarung 70 pound, and surprias, CD Raihan satu set lengkap, ditanda tangani, laku 280 pound! Satu set kerajinan tangan anak Aceh, korban tsunami laku 200 pound.


Best of all, ketika kita menjual program becak, tercatat 11 becak dibelikan penonton untuk rakyat Aceh. Satu unit konveksi juga laku.


Alhamdulillah. ALHAMDULILLAH. Hanya Dia saja yang membolak-balik hati manusia.


Ketika orang-orang dinner, saya dan Riri dapat penyakit yang sama. Tidak bisa menyuap nasi sedikitpun.


Sampai acara berakhir.


Sedihnya, sibuk di belakang dan samping panggung membuat saya tidak bisa menikmati acara. Worst, saya tidak bisa menyapa teman-teman lainnya.


Sempat hai hai dengan Mbak Amel. Tapi nggak lama. Bahkan tahunya dari yang lain, kalau ada Mbak Dian Neilson. Sama Mbak Miya dan Uni Elsye sih ketemu. Tapi, ya gitu, nggak bisa cerita lama-lama.


Taunya ada Mbak tati dari ngeliat foto Pak Dono! Hu hu huk.


Dengan Arik, sejak acara mulai, saya nggak ketemu sama sekali. Baru liat dia, ketika mau pulang...


Pulang juga serba rush. Karena udah hampir midnight. Kita nyewa kamar di travel lodge, masih 1 jam perjalanan. Takutnya, lewat jam 12 kita udah nggak dibolehkan masuk kamar.
Berbagi muatan mobil...Suami ikut keluarga Pak Ali. Saya dan anak-anak ikut Riri. Bismillah. Semoga polisi udah pada tidur...


Pak Zakky mana sangat lucu pula.


“Yang beli kerajinan nyesel tu.”


“Kenapa?”


“Iya. Tadi dia beli anak tiga kok. Anaknya mana?” (Kerajinan anak diperagakan oleh anak Al Ikhlas)


HA ha ha.


Capek, nagntuk, dan tiba-tiba perut perih.


Riri juga.


He he he. Entah kenapa, sama Riri sering banget kembaran. Baik perasaan, pikiran...hi hi.


 


Thorrock itu jauh keluar kota.


Namun, subhanallah, setelah melewati lorong sempit agak pengap, kita masuk kamar yang ....waaah...10 pound murah amat untuk kamar en suite, tempat tidur luas, disampingnya sofa duduk yang bisa disulap jadi dua single bed...Muhammad yang memang tertidur, langsung lelap. Wagfa tidur. Arik yang masih bolak-balik.


Suami bolak-balik ambil barang. Bagi makanan dengan Riri.


Dan pulesss.


 


Pagi.


Wafa dan Muhammad bangun pagi. Mandiin mereka...dan gabung ke kamar Riri untuk makan pagi...sedang para Bapak di kamar kami.


 


Adduh, anak-anak...langsung klik gitu...


Tetap ceria walau segitunya kegiatan sehari sebelumnya.


 


Ketika teman-teman panitia lain pulang Ahad, saya dan keluarga pulang Senin siang. Alasannya, apalagi kalau bukan,....tiket murah. Kalau maksain pulang Ahad, harga tiket bisa melambung dari 20 pound each...jadi 50-an. Ya, numpang tidurlah di rumah Teh Titin.


 


Berhubung, bersama begini bisa dibilang once a year, kita jalan-jalan ke pusat kota London. Westminster, aquarium. Yeni, yang sangat santun dan baik budi menemani dan membiayai. Allah sajalah yang akan membalas kebaikannya.


Bagi anak-anak, it’s  London this...and London that. Tante Yeni this and that....


Hamdallah karena satu kerja selesai...


Semoga berarti banyak...


Kerja berikutnya nunggu....


Daurah Akhwat UK....