Minggu, 04 Juni 2006

Calon Inem (yang nggak seksi)

Sudah sebulan saya kerja nguli, bersih-bersih di woman refugee centre, semacam tempat para wanita malang menyelamatkan diri.


Ada banyak pelajaran. Yang 'mengharukan, sudah tiga saya didekati, dimintai home service .


"Do you clean at home?...you know, people's home?...how much your charged? ....will you come to my house?...my husband is angry with me...my house is not clean...." bacanya dengan bahasa Inggris logat India, pakistan.


Ada beribu perasan mengaduk-aduk....


1. Pintu rejeki Allah


2. Mereka suka kerja saya


3. Am I going to lurch lower...? (Sok iye ini mah....nggak ada pekerjaan hina...asal halal...ini sih rasa sombong)


4. Lha, jika saya kerja, yang nolong beberes di rumah adalah suami tercinta


5. The next Mbok Inem? Minus sexiness?


6. Umak, anakmu pembantuuu....


7. Nak, Umi go to work, okay...clean in someone's house 


8. Bagus...untuk bahan novel


9. Capek


10. Pound pound...naik haji


11. Kapan pulang ke Indonesia ya?


12. Terusin ndiri....


 

Sabtu, 27 Mei 2006

bertiga ke Papandayan


menuju pondok salada

Pada satu hari, tahun 1998, timbul keinginan kuat untuk kembali menapaki Papandayan. Akhirnya cari-cari teman. Ety dan Dian bersedia menemani.
Sebelum keberangkatan, telah beredar berita rencana ini. Beberapa pihak 'mendamprat' kenekadan tiga gadis *manis* ini. Yang paling 'sadis' dari seorang pemuda, hue he he. (Dampratin bukan ke aye).
Seseorang 'orang tenar' juga ikut melarang. Lha, mbakku aja nggak nglarang, je....
Ada kejadian memalukan :-)) Saya sudah wanti-wanti sama dua akhwat, jika mereka tidak kuat, bilang saja :-) Karena kita nekad, mau jalan dari pintu gerbang, menuju ke Papandayannya. Tidak pakai truk pick up, or ojeg, gitu. Terutama pada Ety yang belum pernah mendaki gunung.
E e e, lha lha lha...kok setengah perjalanan, saya lemeeees banget. Kaki terasa berat, perut pun mules...
(Ngakaklah sahabatku itu...karena siapa yang ngasih peringatan...siapa yang teler...)
Pas mau Dzuhur....ternyata, ada teman setia.
Wajaaaar...

Minggu, 30 April 2006

Catatan Perjalanan ke Kampung Halaman

Pernah merasakan tiba-tiba kaki berubah jadi jelly? Tiba-tiba ingin balik kanan saja? Tak usah maju ke counter check in? Semua saya rasakan saat akan terbang 16 April lalu.


Andai, saya bisa cancel saja flight ini...Andai tak harus pergi. Setelah check in, suami dan anak pun diusir, karena semakin lama bersama jelang terbang, semakin perih hati saya.


Dengan hati tak menentu, saya duduk di pesawat kecil Airfrance yang akan membawa saya dari Newcastle ke Paris. Dua jam sebelumnya nunggu di departure longe, sambil baca Qur'an. Dalam pesawat, banyak dzikir. Kata suami, saya dekat dengan Allah, maka banyak-banyak berdoa.


Perbedaan perasaan. Tahun 2000 ketika mendarat, yang ada rasa asing. Lapangan rumput yang asing. Rumah aneh dan tak bersahabat. Kali ini, saat menjauh darinya, sungguh all the nook and crook are close at heart. Seakan meninggalkan sahabat dekat.


But, Newcastle, I'll be back, insya Allah.


Karena terakhir melihat plane safety plan tahun 200 itu, maka saya mencermati detil apa yang harus dilakukan jika terjadi sesuatu. On the contrary, nenek di bangku ujung satu lagi care none of it. Dia terus asyik membaca koran yang dibawa. Tak peduli sekitar. Hm.


Turun di Charles de Gaule. Wow! Ghueede amat!


Dari pesawat naik bus, menuju arrival lounge. Dari situ, diperiksa pasport and everything. Lalu keluar lagi, naik bus menuju Terminal 2C (padahal nyampenya juga udah terminal 2 loo). Di sana, check in lagi. Lalu masuk jejetan panjang gate. Waktu baru menunjukkan 9 malam waktu setempat. Sedang pesawat ke Singapur jam 11 malam.


Apa akal? Mau sholat, tak ketemu ruangan quiet room. Belum lagi tas yang dibawa, jahitannya mulai mengendur. saya menjahit ulang tas peninggalan teman. Sekarang, jahitannya sudah lepas satu-satu. Hh.


Akhirnya menekuni buku bawaan. Emma. Jane Austeen. Diselingi ke toilet dan jalan cari money changer.


kerongkongan haus. Mau beli minum. Botol air putih 3,5 euro. Dari rumah cuma membawa 2 euro, logam uang yang diberi teman, satu hari. Tak ada makanan atau minuman yang bisa dibeli dengan 2 euro. Jus kotak dan apel tak cukup mengganjal perut.


Money changer tutup.


Akhirnya, menabahkan diri, dan menulikan rasa kering di kerongkongan.


Jam sepuluh lewat, boarding mulai.


Wuih, dapet duduk di jendela lagi. Alhamdulillah. Di sebelah dua gadis muda Perancis.


"Do you speak French?"tanyanya.


"No. Do you speak Englis?"


"No."


Akhirnya saling melempar senyum, kami asyik urusan masing-masing. Saya sholat maghrib dan isya. Dua teman mengutak-atik tivi.


Makan malam lumayan enak. Ikan dan nasi a la cina. Filem yang diputar ada beberapa Lavender Women, Harry POtter dsb. Dua anak sebelah agaknya juga baru naik pesawat. Mereka tak henti cekikikan ketika menemui hal-hal baru. Saling jaga dan inform each other lah.


Sedari masuk, hingga beberapa jam kemudian, lelaki di depan mulai bertingkah ajaib. Dia bilang dia dari Scotland. Agaknya dia baru saja kehilangan pacar. Dia sudah setengah mabuk. Makin malam, dia makin ajaib. Satu ketika, saat pulang dari toilet, dia menjawil lengan saya, "Come in. I'll take care of you."


Hiyaaa! Jijj...deh.


Buru-buru masuk kursi sendiri.


Saya berusaha tidur. Sedang dua gadis sebelah selalu diganggu lelaki itu. Beberapa kali pramugari mengingatkan. begitu lagi. Bahkan dia sudah mengeluarkan sebotol besar minuman warna merah. Ugh.


Puncaknya, dia menjulurkan badan ke belakang. Dengan bahasa Inggris patah-patah dua gadis ini mengusirnya. Entah pura-pura, entah beneran, lelaki tak mempedulikan permintaan dia, seakan tak mengerti.


"Please, leave us alone." Saya angkat bicara.
Dia menoleh cepat.


Yaa, jadi sasaran berikutnya. Dia mulai menceracau.


"Please, just leave us alone. We need to sleep."


"Well, you know what hurt me most?"


"Just turn around, please. Leave us be. This is our area."  


Dua gadis Perancis mengagguk-angguk.


Dua menit kami aman. saya memejamkan mata. Namun terpaksa membuka mata lagi, ketika anak gadis di sebelah terdengar gelisah.


Lelaki itu lagi.


"Do you want me to go to the captain?" Saya mulai panas.


Dia menoleh. "What?"


"I can report you to the captain, if you keep annoying us."


Pramugari datang lagi. dia dibawa pergi. Anak gadis yang duduk paling luar menangis. Saya mencari pramugari.


"She cried because of that man."


Bertiga mereka bicara dalam bahasa Perancis. saya tidak emnegrti. Namun akhirnya dua gadis itu dipindahkan duduknya.


Saya sendiri. Berusaha tidur. Lelaki itu datang lagi, bersama pramugara.


Ugh.


Tiba-tiba. Seuatu menyruh saya membuka mata.


Allah!


Dia berjarak beberapa senti saja. Dia berdiri, di dekat kursi yang tengah.


"Get out!! get out of here!!"


Bapak yang duduk persis di depan saya dalam sekejab bangun, berdiri dan menarik lelaki itu keluar.


"I am concern about you, you know."


Saya sudah menggigil, menahan segala rasa.


Seorang pemuda Cina di jalur tengah ikut berdiri. Dua Pramugari mendekat dan menyeret lelaki itu ke  belakang.


"Are you alright?"tanya pemuda Cina.


Saya mengangguk, masih dengan hati berdebar.


bersambung


 


 

Beruntungnya Hidup di Luar Negeri (evisi perbaikan...MPs chicken soup..

, dikomporin....ya sud...coba saja


Beruntungnya Hidup di Luar Negeri


Ah, alhamdulillah.


Allah mengaruniai nikmat tinggal di luar negeri ketika anak-anak masih balita. Datang dengan anak satu, berusia 4 bulan. Sekarang anak sudah tiga…


Sungguh beruntung hidup di luar negeri:


1.       Bisa hidup seadanya...tanpa harus tergoda untuk memiliki mobil atau TV flat screen.


Tidak perlu punya mobil pribadi, toh bus juga nyaman.  Bus ada ke mana saja. Walau kadang harus berjalan dari setopan bus terakhir ke rumah, tidak masalah. Kecil lah berjalan lima ratus meter itu. Hitung-hitung olah raga.


Bus dilengkapi heater/penghangat kala musim dingin, hingga badan yang menggigil menunggu bus, kembali hangat.  Sesekali bus tidak datang pada waktunya, atau melewatkan dua kali jadual berhentinya. So, menunggulah kita di setopan bus sejam lamanya. Ini biasa terjadi saat musim dingin. Paling kaki hilang rasa, tangan dan muka perih kedinginan. Apalagi jika ditambah tiupan badai North wind yang sebeku es. Dijamin sekujur tubuh menggeletar.  Namun, belum separah kena hipotermi. It’s okay.


Bus tertentu menerima kereta dorong bayi, hingga berjalan dengan tiga anak (asal memakai bus ini) mudah dan gembira. Anak-anak suka naik bus dan menempelkan muka ke kaca. Mata bening yang haus itu tak berkedip  melahap semua pemandagan di luar sana.  Saya  (jika belum selesai) melanjutkan dzikir harian, atau membaca koran gratisan.


Tak perlu beli TV. Toh TV buangan orang masih bisa ngasih gambar. Dulu, keluarga kecil kami bertekad tidak akan memiliki  tivi. No tv, no worry. Allah menumbuhkan rasa iba dalam hati seorang saudara. Maka diangkutnya lah sebuah tivi besar  dan kuno ke rumah.


“Supaya Umi Arik bisa mengikuti berita,”tambahnya.


Awalnya tivi tak pernah nyala. Namun, saudara yang demikian pemurah sering bertanya, bagaimana tv licensenya? Sudah bayarkah? Dan seterusnya. Maka, kami dengan amat takut menekan tombol on, dan cemas-cemas menunggu tampilan layarnya.


Alhamdulillah, ada petunjuk jam-jam aman dan tidaknya. Ada jam anak-anak, ada jam mak-mak (biasanya talk show atau cooking show), ada jam beritanya. Barulah malam, jam para hedonisnya.  Sepanjang membuka tivi pada jam-jam tertentu, insya Allah mata terjaga.


Amat sering kami menemui tivi buangan orang di alley. Sampai satu ketika tivi kuno itu menolak mengeluarkan gambar. Kami  lalu membuka pintu belakang dan melongok kiri-kanan. Tak sampai sepekan, tivi kecil teronggok di luar. Maka, bertukarlah posisi tivi itu. Yang besar keluar, dekat tong sampah, yang kecil bertengger di atas meja. Sederhana saja. Tak perlu ke mall, atau buka kredit barang elektronik.


Kami beruntung, karena di Inggris belanja di pasar loak biasa. Belanja ke charity shop tak masalah. Tidak ada 'image' rendah. Lain hal di Indonesia. Di mana, (Mak membelikan saya sepatu di pasar burung Padang) pasar loak adalah kelas lebih rendah :-(


Sebagian besar benda dalam rumah dibeli di pasar loak local. Namanya car boot sale. Mungkin, hanya satu dari 30 items yang dibeli baru. Baju kami hasil berburu di pasar loak. Once a while anak-anak dibelikan baju baru. Biasanya seragam sekolah. Selebihnya barang second hand. Anak-anak pun excited menunggu car boot sale buka. Mereka tak sabar mendapatkan buku dan mainan ‘baru’. Dan mereka tahu, yang penting bukan beli di mana, tapi fungsinya.


 


2. Bisa ngatur jam kerja semaunya. Sesuai kebutuhan anak-anak. Sesuai jadual nyusu bayi. Enaknya. Tinggal milih. Mau kerja jam 7? Jam 10? Jam 12? Jam 15? Semua ada. Mulai dari cleaner/petugas kebersihan di berbagai tempat, dinner lady/petugas makan sekolah atau loly pop woman, alias yang ngantar anak nyeberang.


Jamnya juga bisa milih. Bisa 2 jam sehari, bisa 3 jam sehari, bisa (bahkan) cuma 1/2 jam sehari.


Suka sekali, kerja 2,5 jam saja sehari, pergi anak-anak sudah kenyang dan senang main. Pulang ketika mereka memang minta Umi.


Alhamdulillah.


Karena tak ada lagi beasiswa, saya dan suami sama-sama bekerja sebagai cleaner. Suami ambil jam pagi. Sepulang kerja, langsung ke kampusnya. Saya bekerja sore. Saya kerja, suami di rumah. Setahun ini kami memutuskan suami sebaiknya tidak usah bekerja supaya makin kosentrasi menulis tesis.  Untuk mencukupi kekurangan bulanan, suami ikut Royal Mail, Christmas manual*. Hanya Desember, tiga pekan saja. Mulai kerja pukul 10 malam sampai 6 pagi. Menyortir surat, menstempel perangkonya. Berdiri 8 jam. Tidak sesusah saudara-saudara kuli pelabuhan yang mengangkut goni berpuluh kilo beratnya.


Pernah juga kami menjadi loper koran pekanan. Agen menurunkan tumpukan koran dan leaflet di rumah. Kami lalu memasukkan leaflet ke dalam koran.  Satu satu. Esoknya mengantar koran ke rumah-rumah di beberapa jalan. Pernah, ketika suami sibuk di kampus, saya mengantar koran bersama dua anak. Yang sulung sekolah. Yang bayi di dalam kereta dorongnya. Koran ditaruh di bawah kereta. Bersama anak tengah yang memegang kereta, menyusuri jalan dekat rumah, memasukkan koran demi koran.


Kali pertama jari-jari perih, lecet kena kertas dan tepi pintu. Sesusahnya, jari sudah kebal. Yang menakutkan paling jika harus memasukkan koran ke rumah-rumah tertentu yang memelihara anjing. Sungguh, jantung saya terlompat ketika membuka lobang surat dan ‘Guk guk’! Pintu berderak kena terpaan sepasang kaki dan satu moncong menarik koran. Beberapa lama kaki saya terhujam ke tanah, tak mampu bergerak. Sejak itu, saya selalu waspada.


Kerja loper koran ini, alhamdulillah, mendidik anak kami prihatin dan tahu diri. Mereka juga asyik terlibat dalam memasukkan leaflet ke dalam koran. Bahkan baru saja bangun, anak tengah sudah minta ijin kerja koran. Karena mereka demikian menolong, satu pekan gaji loperan dihadiahkan pada mereka untuk membeli  leap frog, mainan penolong membaca.


Alhamdulillah, karena kemahalan biaya, kami tidak mampu punya 'khadimat' alias pekerja domestik di rumah. Semua dikerjakan sendiri. Mulai dari belanja bahan masakan mentah, sampai memasaknya, dan menyuapkan kepada anak.  Dengan demikian, tidak ada masa anak bersama orang lain. Hingga, kami yakin, apa-apa yang mereka dengar, yang mereka serap semua sudah difilter :-)


Ada saja pilihan untuk memasukkan mereka ke nursery** pemerintah. Namun, sebisanya, kami menjaga anak di rumah. Tidak apa tidak punya uang lebih, namun anak selalu melihat dua wajah yang mencintai mereka dengan sepenuh hati.


Membiarkan mereka bersama orang lain (apalagi yang digaji...di mana kecintaan mereka belum tentu seikhlas kita) bagi saya agak mencemaskan. Bagaimana jika mereka tidak nyaman? Anak memiliki perasaan sangat halus. Mereka sangat tahu mana-mana senyum terpaksa, mana-mana cinta sepenuh jiwa. Dan menyirami jiwa mereka dengan cinta, lebih berharga daripada membelikan mereka mainan baru dan bagus.


Senang sungguh hidup di LN  saat anak balita, karena pergi dan pulangnya bisa sesuai kemauan mereka.


Semoga menit-menit bersama itu menumbuhkan mereka menjadi muslim/ah yang sholeh/ah, berguna untuk umat.


 


"I love you very very much Umi...every day I ilke you"  adalah 'gaji' yang tak ternilai harganya.


3. Tak perlu punya rumah karena banyak kontrakan. Di Scotland, kalau mau sabar dikit, bisa nyewa dari council yang super murah. Jika nyewa dari private landlord dan kebetulan dapat landlord orang Pakistan yang super baik, lima tahun nyewa, harga cuman beranjak 20 pons. Sodara seiman lah. Jadi, banyak cingcau juga.


Karpet jelek dan bulukan, lapor sama landlord. Diganti baru. Nggak perlu bayar mortgage/kreditan. Tak perlu berhutang melebihi kemampuan, hingga sabet sana sini, tak tentu lagi halal haramnya.


4. Nggak perlu stress ngejar karir. Nggak ribet mikir promosi dan sebagainya. Status kita abadi, cleaner, dan selalu cleaner. Harus bisa menerima, sebagai orang asing, berkulit coklat, dengan penampilan berbeda (jilbab) pekerjaan yang banyak tersedia ya cleaner. Wajar saja. Tak perlu diperdebatkan.


Bahagianya para ibu Indonesia yang bisa menopang ekonomi keluarga mereka dengan menguli di kantor dan sekolah. Cleaner namun bisa haji. Cleaner namun bisa jalan-jalan ke eropa (ada teman yang tur ke eropa dari hasil menguli).Cleaner, namun bisa banyak hal...


Nggak bikin kepala pusing, atau otak tersiksa...


Sepanjang bisa ngosongin tong sampah, bisa nyapu, bisa vacuuming, bisa ngepel, kerja di tangan. Apalagi, ibu-ibu Indonesia terkenal pekerja yang rajin, teliti dan baik.


Eh Hm.


Semoga, kembali ke anah air, kesederhanaan itu tetap terjaga :-)) Walaupun kembali ke tanah air = kembali kepada dunia menulis....dekat dengan pembaca Muthmainnah :-)) (*!"@!!)  Sungguh, menjadi Ibu di rumah sangat berharga. 


Tell me that I lost my fighting spirit, I care none of it (I know that I can be anyone I want, bi'idznillah) tapi, menemani mereka, sampai mereka tak perlu ditemani lagi adalah pilihan :-)


 


***


Sir Thomas Bertram (Mansfield Park: 'Anak yang dibesarkan dengan keprihatinan dan pendidikan moral, lebih berhasil menjadi manusia yang utuh daripada anak yang dibesarkan dengan fasilitas dan kemudahan'.


 


note:


Royal Mail, Christmas manual = pekerjaan di kantor pos local khusus Desember saja. Biasanya Royal Mail merekrut ratusan pekerja temporary.


Nursery = fasilitas penjagaan anak pemerintah untuk orangtua bekerja. Ada nursery yang mulai dari jam 7.30 – 18.00. Segala pilihan jam dan jenis nursery tersedia. Dari yang gratis, hingga membayar pun ada.