Senin, 12 Desember 2005

'KRL Jabotabek', a la Inggris

 Menjelang liburan nasional seperti natal, tahun baru, atau libur anak sekolah, biasanya transpor umum membludak. Namun, selama di UK, baru sekali kami mengalami disarden dalam train. Duluuu sekali, tahun 2000. Itu juga karena train sebelum dan sesudah yang kami naiki di cancel karena masalah teknis. Jadilah, peminat 3 train terpaksa berjejal di dalam satu train.
Tapi, karena pushchair masih bisa masuk, at least, Arik masih bisa duduk. Sedang saya dan Pak Andri berdiri desek-desek.
Akhir pekan lalu, kami sekeluarga ke huddersfield. Pulangnya masih siang. Biasanya, dari Hudd jam segitu, train masih lapang.
Namun, ternyata, tidak. Begitu banyak orang, namun anya tersedia 3 coach. Kami lari ke depan, penuh.   pergi ke tengah, ke belakang juga penuh. Sebagian nyerah dan menunggu train berikutnya. Yang entah kapan. Karena dari Hudd ke Leeds, berdasar timetable ada yang lewat 47, lewat 14. Ini datang lewat 03. Jadi ini yang mana? Kalau menunggu yang satu lagi, tidak mungkin mengejar sambungan ke newcastle. Sedang tiket leeds -ncl adalah tiket murah, tidak bisa tidak, harus ambil train yang itu. Jika tidak terkejar, artinya harus beli tiket baru, 3 X lipat dari tiket yang sudah di tangan.

Seorang teman sudah di dalam train. Saya memberikan tas plastik makanan anak2 ke dia, mengambil Wafa dari pushchair, dan memanggul ransel. SAat suami sedang knock down puschair, saya meminta dengan isarat kepada orang berdiri yang di dalam untuk maju lagi.

"I need to get in. Move, please. Give space."

Dua ibu-ibu maju, diikuti oleh lelaki2 di belakangnya. Seorang lelaki dan perempuan di  tengah, yang sebelumnya menolak masuk tak bergeming.

Saya ketok-ketok jendela. Mereka menoleh. "Give space!" tanpa saya sadari, saya sudah melotot.

E e e, pintu train tertutup.   Saya berlari ke pintu sopir dan mengetok-ngetok jendelanya.

Dia mendekat dan membuka pintunya.

"My bag is with my friend inside! I need to catch my connection in Leeds!" Rasanya muka itu udah tegang sekali.
"You need to speak to the conductor, pet."

"Where?"

Dia menunjuk ke samping. Dari arah belakang train, lelaki berbaju putih mendekat.

"My bag is with my friend inside!" Rasanya mau menggampar bapak itu. Udah jelas kita berusaha naik, eh, malah pintu ditutup. Sopan sekali deh.

Tanpa banyak komentar dia membuka pintu dengan kunci. Pintu terbuka. Orang-orang memberi space.

"Naik saja Bi."

Saya naik, diikuti suami dan anak-anak.

Ugh! Rasanya kepala saya sudah berasap. Keki dan sebel. Beberapa bule di sekitar tertawa dan tersenyum. Saya tidak mood ngobrol. Wafa harus digendong. Muhammad di antara saya dan seorang lelaki. Suami dekat pintu. Antara pintu, dinding dan dan suami, kejepit Arik. Di sebelah saya, akhwat.
"Cuman 20 menit, biasanya Seu." Akhwat harus mengejar coach dari Leeds jam 3. Which means quite an ample time. Saat itu sudah 15 menit dalam train. Tangan saya sudah kram. Wafa diambil akhwat. Saya mengambil Muhammad yang tertidur sambil berdiri. Saya dudukkan dia di atas luggage di depan. Nggak pake minta ijin. Aduh, my manner. Tapi, bener deh, udah nggak ada tenaga untuk berbasa-basi.
Bayangkan, di sandwich begitu, memanggul tas di belakang, dengan pakaian untuk winter (jaket tebal...2 lapis baju), menggendong Wafa yang tertidur, sungguh....seperti dimasukkan ke dalam oven!
5 menit Muhammad duduk sambil tidur, saya harus mengambil Wafa kembali, karena diperkirakan, hampir sampai ke Leeds.
"Ini jalur lambat,"jelas suami yang celingukkan.
"Masa? Kan cuma ada satu jalur. Hudd-Leeds."
"Ada dua. Yang cepet dan lambat."
"Kalau yang lambat, itu berhenti tiap stasiun, kecil. Ini bahkan nggak berhenti di Dewsbury."
"Iya, ini langsung ke Leeds," tambah akhwat.
"Ini yang lambat," jelas suami saya pelan.  Very tipical of him.
Saya tidak percaya. Tapi, berlalu 5 menit, Leeds tetap tak nampak. Seketika saya lemas. "Betul ternyata, Seu, ini yang 40 menit deh."
Akhwat mulai mengitung2 jarak dari train station ke coach station. Hanya bersisa 10 menit sebelum bus dia depart.
"Semoga tidak apa, Mbak."
"Mi, Abang Arik lapar." Wajah Arik sudah sangat memelas.
"Gimana caranya mau makan, Rik,"Suami marah.
"Sebentar lagi Leeds, Rik. Sabar ya. It's not possible now to get you food. Sabar oke?"
"Tadi anak-anak makan tidak?"
"Arik makan sereal dua bowl."
Tangan saya kembali kram. Wafa kembali ke akhwat. Muhammad telah tertidur lagi sambil berdiri. Tangan suami dua-duanya memegang pushchair. Dan masih terasa sepanas oven.
Menjelang 13 menit sebelum jam berikutnya, barulah train sampai di Leeds. Lebih lama dari 40 menit. Akhwat langsung berlari keluar, mencari taksi. Saya membawa Wafa, tas mainan anak2 dan tas plastik keluar. Suami menyusul tak beberapa lama dengan anak-anak.  Beberapa lama, suami tidak bisa menggerakkan kaki, karena posisi berdiri yang awkward, membuat kaki beliau kram.
"Posisi berdiri tidak betul,"jelas beliau. Saya hanya bisa tersenyum.
Sampai di platform 12A, kami menunggu train koneksi ke newcastle. Saya mengeluarkan coklat untuk Arik dan Muhammad.
Hanya 4 menit sebelum train due datang, datang train virgin, tapi arahnya berlawanan. Saya membawa pushchair ke arah yang disable coach. Suami berteriak, bahwa train itu bukan ke newcastle. Betul saja, itu ke plymouth. Akhirnya suami cari info ke depan monitor.
Ugh, ternyata platform dipindah ke 11B. Artinya, harus naik lift, nyeberang, turun lift!!

Berlarianlah ke platform baru. Dengan tiga anak, satu lapar, satu ngantuk, dan satu di pushchair, tertidur.

Ada pegawai train station di dalam lif yang sama.

"How could they change the platform just 4 minutes before the boarding!" saya memuntahkan amarah yang sudah mendidih.

"I have no idea, pet. But they will wait for you. They will."

As if!!

Sedang ketika kita di depan pintu train saja, mereka nutup pintu kok!

Dengan berlari sambil menggeret anak, akhirnya berhasil juga masuk train. Tak sepenuh train sebelumnya, namun masih banyak yang berdiri di depan toilet. Alhamdulillah di train ini, kami punya reserved seat, jadi ada jaminan punya tempat duduk.

Ugh!

You will think that a modern country like Britain will never offered you a shamble transport service like this. But, it did!

Slowly, it downed to me....aye masih aja gagah ya?


Nyengir sendiri....

Minggu, 04 Desember 2005

Too Early Winter...Dzikrul Maut

North East England, which is Newcastle sekitar, termasuk Durham, Alnwick, dll memiliki cuaca yang ....kata orang bule,...the coldest. Sebenarnya nggak juga sih. Winter tahun lalu, saat daerah tengah drop sampai -10C, Newcastle masih bertahan dengan -4C. Untuk ukuran winter, ini mild :-D


Kata the coldest, menurut pendapat saya, karena saat summer, newcastle relatively sejuk. Ini karena terletak di tepi samudera hingga tiupan angin laut mendinginkan udara yg udah merangkak 28C itu. Ini sih, jarang juga kejadian. Paling banter mah 24C.


Nah, masalahnya, tahun ini predicted to be the harshest...coldest winter ever in a decade. Wiiii.


Betul juga, sodara-sodara. 8 November lalu, saat Subuh, tiba-tiba salju turun. Kita asli terlongo. Karena  salju biasanya turun akhir Desember. It was just too early! Walaupun begitu menyentuh bumi, salju melted. Tinggal sisa-sisa salju di atas daun yg bisa diliat pas nganter anak sekolah.


3 pekan kemudian, tiba-tiba saja terjadi havoc, chaos di berbagai kota, karena mendadak salju turun...jalanan belum digrid...ratusan cars were abandonded, roads were deserted...dan banyak nenek/kakek yang jatuh sakit...bahkan sampai meninggal karena cold-related illness.


Tentang pensioners...ini masalah klasik, yang selalu membuat saya ternganga. Bagaimana mungkin, negara semaju Inggris membiarkan ratusan kakek/nenek per pekan meninggal karena tidak ada heater? Karena uang pensiun mereka hanya 75 pound/week, mereka terpaksa tidak memakai gas....karena kadang beli gas sistem top-up  means, at one point, you just can't buy it nomore....Kejadian yang sering terjadi ialah, nenek/kakek keluar selimut...mendapati rumah kaku seperti es....mau menghidupkan heater, terjatuh karena kedinginan....dan meninggal karena hipotermi....Atau....tidak bisa menghidupkan heater...karena memang tidak ada  lagi kredit gas!!!


Akhir November, Blair terpaksa mengeluarkan kebijakan mendadak...jika udara turun drastis selama lebih dari sepekan, maka gaji pensiunan otomatis dinaikkan. Mirip subsidi BBM gak sih?


Eniwei, akhir November lalu saya ke Glasgow...Udara masih sekitar -4C.  saat mendudukan ekor di kursi kereta api GNER, tiba-tiba saja kedua hidung saya tersumbat. Habis! Tidak ada udara yang bisa keluar dan masuk. Terlalu dingin, kali. Saya pikir, 5 menit lagi, they would be cleared.


TIDAK.


Terhitung sejak jam 7 pagi....sampai jam 7 malam....kedua hidung saya 98 persen tersumbat!! Bayangkanlah mengisi pengajian dengan kedua hidung tersumbat! Kaliamat 'mengingat Allah dalam hening malam....mengakui dosa-dosa pada Pencipta'....adalah kalimat yang tidak bisa saya ucapkan!!


Bahkan menelan ludah saja jadi menyakitkan. Karena saat menelan ludah natural, ada angin yang keluar lewat hidung....dan ketika itu tidak bisa.... Allah....


Mengatur timing antara bicara...menarik nafas....dan menelan ludah!! Jika tidak pas....saya bisa tersedak....dan KEMATIAN!! Karena 3 menit jalur nafas tersumbat.....seseorang bisa meninggal. Belum lagi saat buka puasa....minum air...


Sungguh, air mata saya mengalir....Dekat kematian itu....begitu banyak nikmat Allah...


Fabiayyi 'ala i robbikuma tukadz dziban...


 


 

Selasa, 29 November 2005

Pelajaran Pedas dari Sambel

Allah memberikan pendidikan di mana saja


Pada pengajian terakhir di newcastle, saya mengambil tugas membuat sambel terasi. Pertama, emang sangat suka sambel, jadi sekalian buat banyak untuk disimpen di fridge. Kedua, memang semua bahan ada. Saya sangat suka sambel, namun masak sehari-hari bisa dibilang abstain pake cabe, karena suami sama sekali tidak bisa pedas. Maka bisa masak sambel itu asyik banget. Terbayang, nasi anget, sambel terasi...dan goreng teri....yum yum.


So, sambel jadi dalam jumlah banyak. Sebagian untuk pengajian. Sebagian, disimpan di rumah. 


Pas mau berangkat, kecelakaan terjadi. Entah bagaimana....Arik nyenggol sambel yang akan dibawa...jadinya sambel jatuh ke karpet dan boks tempat hat dan mitten. Padahal tu sambel udah ditaruh jauh-jauh dari mereka.


ADDUUH!!


Marah pertama karena semua kotor.


Marah kedua...dan yang lebih berpengaruh....yaaa, bakal nggak jadi punya sambel nii. Karena mesti tetap bawa sambel kan? Artinya, persediaan di rumah mesti direlakan untuk pengajian.


Sepanjang jalan mikir, apa yang diinginkan Kekasih dari pelajaran yang bikin gigit jari ini?


AH, JANGAN GREEDY doong....


Dalam mengukur-ngukur mana yang akan dibawa (dengan membayangkan berapa jumlah orang yang hadir dan sambel yang akan dibawa....) saya cenderung generous untuk meninggalkan sebagian di rumah, hi hi hi.


Jangan rakus. Kalo mau 'sedekah' sambel, jangan kebanyakan 'sayang'-nya.

Selasa, 22 November 2005

Pertama!! Bersama!




kali pertama foto keluarga. biasanya hanya berempat, karena salah satu harus jadi fotografer. kalaupun harus pakai timer, seringnya hasilnya tidak terduga, karena tripot sudah dikirim ke TA.

Senin, 03 Oktober 2005

Off Ngempi

Mohon maaf untuk semua teman-teman di MP.


Selama Ramadhan, mulai esok, saya off buka MP. Mau kosentrasi sama tamu mulia .


Juga off Yahoo Messenger, kecuali untuk Taujih Online. Jadi, media komunikasi kita via email saja ya.


Semoga Allah jadikan kita orang-orang yang memang....Amiin.


Wassalam,.


imun

Kamis, 29 September 2005

Membatu Hati

Ada masa di mana kepedihan itu sangat memerihkan...hingga tak mampu lagi menangis....kerongkongan sakit dan kepala pening. MAta nanar dan tubuhpun tak bertenaga. Dan itu melelahkan...karena pening itu terbawa ke mana-mana....sedang diri pun tak mampu berbuat apa-apa. Rasanya hopeless....sekaliii. Dan saya penat dengan keputus-asaan.


Lalu ada solusi...membatukan hati, ya saudara.


50 insurgents died in the attack in Basra....800 islamists feared to have died in the frenzy attack of Uzbek....Feared amounted as hundreds of Palestinian died when Israel attacked Gaza....


Hati saya tak bergeming. Paling angka itu masuk telinga kanan, keluar dari telinga kanan lagi...Biasa....Muslim kan  memang akan jadi santapan srigala liar, kata Rasul SAW....seperti inilah itu...bla ...bla...


The vilest Trade....Gory Pictures for Porn....


Saya terpana....Metro di hadapan tak terbalikkan halaman....Foto-foto mayat yang dirusak, dijarah kehormatan mereka....dan dijual kepada binatang untuk layanan pornografi. (Mayat harus diperlakukan dengan baik...menghormati diri mereka dengan menyeleggarakan jenasah secara sempurna)...


Sedang kepala itu tak ada lagi...hanya ada kolam darah dan otak...Dan wanita itu, jelas-jelas berabaya....dibuka auratnya, tanpa kaki...dan dengan tulisan yang menjijikkan di sampingnya.


Allah,...mereka Muslim!! Mereka bagian dari diriku.....tanganku...kakiku...auratku...


Sungguh perih ya Karim, sakit dada ini ya Wadudd...yang Maha Cinta....Ke mana Kau berikan kami....ke tangan musuh yang tak ada rasa kasih dan hanya ingin mencelakakan kami?


Duhai RAhman, Rahim....


Ya Ikhwanal Muslimin....fa aina antum?


Di mana kalian ya Muslim? Saat kehormatan negeri kita dijarah? Saat wanita kita dinoda? Saat mesjid dan Qur'an kita diinjak kaki durjana...saat bayi kita digorok lehernya? Di mana kalian?


Perih ini sebilu, ya Ghaffur...tak sesakit torehan pisau yang membelah rahim saudariku....tak sepedih tembusan peluru yang menumpahkan darah mujahidku...


Sakit ini ya  Rabb, semoga lekat dan melahirkan energi untuk berbuat....demi nyawa saudaraku ...demi kehormatan...demi masa lalu dan masa depan.


Aku rindu harumnya syahid...semerbak wangi ...memenuhi bumi...


Aku rindu ....


 


 


 


 

Selasa, 27 September 2005

wafa dan Dunia Maya

Wafa hampir selalu di tas pangkuan saya jika saya duduk depan komputer kami. Satu karena memang waktu di make komputer mepet, jadi kalo ada waktu luang, saya curi-curi. Dua, memang Wafa suka duduk di depan komputer sambil 'gili-gili' alias mengobrak-abrik meja.


Usai buka komputer sedikit, saya mengajak Wafa ke living room, karena hendak beberes.


Tiba-tiba dia bilang, "Mo ntenet."


Saya tidak ngeh. Masih asyik tidy up.


Setelah 'mo ntenet' yang kesekian kali saya tanya, "Mau apa, Beb?" (Beb= baby...dipendekkan)


"Mo ntenet." Wajah cemberut itu.


"Mau pen?" Dia suka nulis.


"Nooou, mo ntenet."


"MAu book?"


"Noooou. mo ntenet." Wajahnya hampir menangis.


Saya melihat-lihat isi meja. Kira-kira apa yang dia maksud. "Mana?"


Dia mulai mewek.


"Mau hidupkan tivi?" Saya tunjuk tivi yang mati.


"Mo ntenet." Kali ini dengan hentakkan kaki.


LAma saya berpikir. "Wafa mau internet?" tanya saya agak takjub.


"Ya."


oh la la...


Ha ha ha.


Begitu ummi begitu anak!